post

2021


Mari beranjak ke Desember 2020, saat aku berhasil memenuhi tantangan dari diriku sendiri untuk menulis di blog ini selama 31 hari berturut-turut. Aku pun membuat niat untuk tahun 2021, menulis setiap bulan. Ternyata tidak. Aku hanya senang berencana tanpa memikirkan lebih jauh akan seperti apa kesibukanku di tempat kerja yang baru. Alhasil, tahun 2021 sudah mencapai hari terakhir, dan aku baru menulis 6 post, semuanya di bulan Januari.

Aku tidak merasa terlalu bersalah karena aku yang paling mengenal diri sendiri. Jadi apa yang kupelajari selama satu tahun kalender ke belakang?

Sebaiknya tidak menyusun rencana di bulan Desember

Kesalahan yang terus kuulangi setiap tahun adalah baru mengevaluasi resolusi yang dijalani dan merencanakan resolusi tahun baru di bulan Desember. Itu adalah cara yang buruk untuk membuat pikiran bingung dan kehilangan arah. Akibatnya resolusi yang dipilih adalah resolusi tanpa pemikiran matang untuk jangka panjang. Tentu saja resolusi yang baik adalah yang bisa dilanjutkan dan membawa kita ke titik tertentu, langkah demi langkah. Resolusi yang baik adalah yang bisa kita kendalikan dan kita usahakan dengan kapasitas diri yang sudah ada.

# Resolusi 2021

Poin ResolusiRealitas
Donor darah 3 kali2 kali (Agustus dan Desember)
Menulis di blog setiap minggu (52 post)6 post di Januari dan 1 post di Desember
Tamat N4 (Minna no Nihongo)Tamat N4 + sertifikat kursus
Kulit bersih dari jerawatSelesai perawatan jerawat bulan Oktober
Hindari makan telur terlalu banyak dan terlalu sering
Menemukan skincare yang cocok
Minum air putih lebih teratur
Olahraga fisik dan yogaJalan kaki 45 menit setiap akhir pekan
Yoga 3 kali seminggu (termasuk yoga tulang belakang)
Terapi tulang belakangTerapi mandiri tulang belakang setiap hari
Yoga tulang belakang 1 kali seminggu
Pergi ke tempat baruCheck! di bulan Juni

Resolusi untuk tahun 2022 sudah kusiapkan di bulan November. Memang hanya berbeda 1 bulan, tapi aku merasa lebih realistis karena bisa melihat kembali beberapa kali, sebelum pergantain tahun benar-benar datang. Aku di tahun ini tidak lagi sangat ambisius. Resolusiku berupa daftar yang sederhana. Aku hanya ingin istirahat dari segala persaingan yang melelahkan. Ditambah aku yang tidak aktif di media sosial, kurasa semua itu cukup menggambarkan ketenangan yang kumiliki.

Tahun 2022, aku berencana untuk membangun kembali komunikasi dengan orang-orang yang pernah kutemui sepanjang aku sekolah. Setelah bertahun-tahun bersembunyi demi menunjukkan eksistensi diri di masa depan, aku menyadari itu hal yang menyita waktu dan tanpa ujung. Bagaimana kita menilai diri sendiri sudah cukup membanggakan di hadapan orang lain yang juga sedang berproses? Sama saja dengan merencanakan untuk sombong di masa depan.

2021, terima kasih telah mengajari aku bahwa hidup itu milik masing-masing. Kebahagiaan dan kesedihannya harus direngkuh sendiri dan bukan jadi ajang membandingkan.

Selamat bertemu, 2022. Salam hangat.


Photo source: Pinterest

post

Kota


Ibuku pernah bercerita tentang rencana merenovasi rumah warisan nenek di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Rumah yang kini atas nama ibuku itu salah satu dari sedikit rumah di kampung kami yang masih terbuat dari kayu dengan interior “kampung”. Setiap kali aku pulang kampung dengan keluarga, satu per satu rumah-rumah tetangga berubah menjadi bangunan bata, dengan lantai keramik yang warna-warni, dan interior yang lebih modern. Rasanya selera manusia memang bisa berubah cepat, ya. Kebosanan adalah salah satu pemicu, atau mungkin sekadar keinginan untuk berubah ke arah lebih baik dengan berkiblat pada kota. Wajah yang mana yang bisa ditiru kalau bukan dari televisi dan gempuran acara, menampilkan kehidupan kota di Jabodetabek. Isi televisi memang mayoritas adalah Jawa, bukan?

Ibuku masih memegang teguh keinginan hati untuk mempertahankan model rumah kayu seperti saat ini. Alasannya agar kelak suatu hari ketika pulang kampung, suasana benar-benar kampung yang ada dalam memorinya. Suasana masa kecil memang paling lekat terutama bila semakin berumur. Setidaknya harus ada hal yang bisa membangkitkan kerinduan dan gairah tentang kampung halaman. Aku yang sedari awal dibawa merantau ke ibu kota, tidak terlalu mengerti sentimen macam ini. Jika diminta berpendapat, aku akan mengiyakan bahwa kota memang masih dipandang superior dibanding desa yang dipandang lebih terbelakang. Sayangnya orang kota perlu menyadari bahwa kebutuhan pangan mereka perlu ditopang oleh desa-desa. Tentu saja aneh kalau melihat ada tanah kosong di DKI Jakarta yang tiba-tiba direlakan pemiliknya untuk menjadi sawah atau kebun atau bahkan hutan, bukan? Meski tidak mustahil, rasanya hal seperti itu masih jauh untuk jadi kenyataan.

Bagi yang melihat kota penuh gemerlap dan kemudahan hidup, kalian belum merasakan terkungkung dalam stres dan keinginan untuk melarikan diri untuk mencari udara segar. Meski tentu saja pengalaman awal dari berada di kota adalah hati yang menggebu-gebu dan kekaguman yang memuncak, hal yang monoton akan merusak pelan-pelan. Bukan berarti kota adalah tempat yang buruk. Manusia perlu menghibur dirinya dengan beralih sejenak bila sudah jenuh, dan salah satu sumber kejenuhan utama peradaban ini adalah hidup di kota besar.


(Photo source: Pinterest)