post

Lulus Sarjana!


Hari ini tepat H-1 wisuda sarjana. YEAY! Akhirnya perjuangan hidup di ITB terbayar sebentar lagi dengan selembar ijazah (dan segudang pengalaman selama kuliah)~ Hidup ini masih sama saja, naik menanjak tapi tidak bisa diulang lagi. Setiap pilihan yang diambil akan membuat kita berpikir tentang dampaknya di masa depan (kecuali untuk pilihan yang dibuat secara mendadak).… Continue reading Lulus Sarjana!

2 years ago · mind self

Selamat Pagi


Selamat pagi, puisiku Kamu yang sejak malam tidak terjamah jemari apakah nyenyak dalam lelap? Matahari sudah tinggi tapi Matahati belum rapi Entah, aku berniat bubuhkan tanda tanya di badanmu Karena tanya yang tidak kunjung habis tentang kenapa sayap-sayap awan terasa ngilu kian hari tentang kenapa pintu-pintu jiwa terasa sesak namun hampa tak berisi tentang kenapa… Continue reading Selamat Pagi

2 years ago · mind self

Mati


Mati bukan berarti sendiri karena potong-potong kata yang kauselipkan di telingaku dan juga telinga mereka akan selalu menjadi ngiang yang panjang Mati bukan berarti jera karena gurat-gurat kalimat yang kautuliskan di jemariku dan juga jemari mereka akan selalu menjadi lebur yang riang Mati bukan berarti pisah karena butir-butir paragraf yang kaubisikkan di langit pagiku dan… Continue reading Mati

mind self · post

Spasi


Aku terlalu nyaman berada di dekatmu sampai aku lupa bahwa kita butuh ruang untuk bergerak dengan bebas, yang selama ini kita hilangkan dengan genggaman di waktu-waktu kecil kita. Rasanya seperti mimpi yang terlampau indah, aku terlena sampai lupa untuk bangun dan menghadapi kenyataan. Aku akan menulis ini sesuai pihakku, karena aku tidak bisa membaca isi… Continue reading Spasi

Uncategorized

Menjual Maaf


Kamu selalu bisa melukai dan tanpa kamu sadari, maaf sangat mahal untuk dibeli. *** Aku menjual maaf. Rapi kususun di rak kaca tembus pandang dengan palang toko yang bertulis BUKASELAMANYA, jika bisa. Orang-orang berlalu-lalang melirik sedikit dan mengernyit tiap lewat, sesekali meneriakkan serapah yang tidak aku pahami. Aku tetap menjual maaf. Aku menjual maaf. Berdoa… Continue reading Menjual Maaf

Uncategorized

Jalan Pulang


Jalan pulang yang menuju ke arahmu adalah jalan yang ramai, suka cita, riuh, warna-warni. Serupa festival yang berlangsung setiap hari, menerbangkan balon pelangi ke angkasa, meniup lampion kertas origami ke cakrawala. Aku ingin membelok di tikungan saja dan menatapmu dari ujung jalan. Aku tidak perlu buru-buru melangkah ke sana. Aku lebih baik pulang. Jalan pulang… Continue reading Jalan Pulang

Uncategorized

Jendela Hujan


Rintik hujan belum berhenti. Aku menatap sepotong jendela di depanku. Bening, tak menyisakan warna dalam lekuk-lekuknya. Keras, tak menyisakan lunak dalam sudut-sudutnya. Aku melihat ke seberang jendela. Melihat dunia yang dipisahkan oleh waktu dan hujan. Detik jam masih berbaur dengan udara. Berdetak berdetik berdetuk, menimbulkan suara yang menguar keluar mendobrak jendela. Aku duduk saja melihat… Continue reading Jendela Hujan