mind self · post · profesi

Makan Sampah


 

large.jpg
Merebus Pagpag

 

BBC News melalui channel Youtube mengunggah sebuah video yang berjudul “Would you eat recycled landfill meat?” 26 Februari lalu. Video berdurasi 3 menit 50 detik tersebut menceritakan perjalanan terakhir sampah makanan yang dibuang di Kota Manila, Filipina. Sampah makanan yang berasal dari berbagai restoran dan rumah makan di ibukota dipilah-pilah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), untuk kemudian dijual. Diperlihatkan daging-daging sampah yang terkumpul itu disisihkan tulangnya, dicuci, dan dimasak ulang. Namun rasanya mengiris hati melihat makanan yang didaur ulang tersebut disajikan layaknya makanan mewah di sebuah rumah makan di area TPA. Meski tampak lezat dan baik-baik saja, ada sisi lain menyangkut kemanusiaan yang patut dipertanyakan. Haruskah mereka melakukan semua itu?

Berbicara tentang komposisi sampah di negara berkembang, sampah sisa makanan memang masih mendominasi. Di Filipina, sampah sisa makanan merupakan komposisi tertinggi yaitu 45%, sementara di wilayah Metro Manila juga menempati posisi tertinggi yaitu 33% (JICA, 2004). Sampah sisa makanan yang merupakan sampah organik masih dicampur dengan sampah lainnya (kecuali apabila ada sampah bernilai jual yang diambil pemulung) sebelum diangkut ke TPA. Meskipun pengangkutan sampah ke TPA sudah mencapai 100% (Asia Development Bank, 2004), belum menjamin sampah yang diangkut akan diproses dengan baik di TPA. Masyarakat yang memulung di TPA sudah membuat permukiman tersendiri di area tersebut dan mengambil sampah-sampah yang dinilai berharga, salah satunya sisa makanan.

 

hoho.PNG
Permukiman di salah satu TPA di Filipina

 

Makanan yang disebut Pagpag tersebut merupakan potret kemiskinan yang nyata. Dalam film dokumenter karya Giselle Santos berjudul “Pagpag: Meal of the Day” tahun 2013, diceritakan bagaimana Pagpag sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat miskin di lingkungan TPA. Santos mengatakan, selain memperoleh upah dari barang-barang bernilai jual dari bos, pekerja biasanya juga mendapat Pagpag untuk dibawa pulang. Pagpag tersebut ada yang dikonsumsi sendiri, ada pula yang dijual kembali.

Rasanya tidak lengkap jika tidak mengomentari Indonesia yang juga masih terkategorikan sebagai negara berkembang. Di DKI Jakarta, komposisi sampah makanan mencapai 52% (Aprilia, dkk., 2015). The Economist juga menerbitkan infografis yang berjudul “Food Loss and Waste” yang menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar kedua yang menghasilkan sampah sisa makanan di dunia.

Bagaimana dengan kondisi TPA-nya? Di TPA Bantar Gebang yang menjadi tempat terakhir pengangkutan sampah Jakarta juga terdapat permukiman kumuh pemulung. Tidak ingin terlalu bersyukur, tetapi di TPA Bantar Gebang tidak ada yang mengambil sisa makanan untuk diolah kembali menjadi makanan baru (atau mungkin belum terekspos?). Namun kondisi permukiman TPA di sana tidak jauh berbeda dengan yang ada di Manila.

 

food-waste_hi-res.jpg
Hasil studi The Economist

 

Pada hakikatnya semua orang mempunyai cara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup, terutama urusan perut. Apabila mampu, tentu saja kita bisa memilih makanan yang enak, sehat, mengenyangkan. Apabila tidak mampu, kita harus mengakali cara bertahan hidup. Mungkin dengan bekerja serabutan dan mengambil sisa dari orang-orang yang mampu.Menurut Prof. Enri Damanhuri, sampah adalah semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yang dibuang karena tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. Sampah yang kita buang belum tentu benar-benar pantas dibuang. Bisa saja itu merupakan karunia bagi orang lain.

It’s quite saddening and frightening to realize that the gap between the poor and rich in our country can be measured by what we throw in our bins.

-Giselle Santos


Pustaka:

  1. Aprilia A., Bastian L., Tezuka T. (2015): GHG Emissions Estimation from Household Solid Waste Management in Jakarta and Surabaya, Life Cycle Assessment Research in Indonesia.
  2. Asia Development Bank. (2004): The Garbage Book.
  3. Damanhuri, Enri dan Tri Padmi. (2010): Diktat Kuliah Pengelolaan Sampah, Program Studi Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.
  4. Food Loss and Waste. http://foodsustainability.eiu.com/food-loss-and-waste/
  5. JICA (Metro Manila Development Authority/Japan International Cooperation
    Agency). (2004): The Study on Solid Waste Management for Metro Manila:
    Master Plan Report.
  6. Meal of the Day: Pagpag. https://www.rappler.com/move-ph/issues/hunger/53080-leftover-meal-hunger
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s