Uncategorized

Menjual Maaf


snow

Kamu selalu bisa melukai dan tanpa kamu sadari, maaf sangat mahal untuk dibeli.

***

Aku menjual maaf. Rapi kususun di rak kaca tembus pandang dengan palang toko yang bertulis BUKASELAMANYA, jika bisa. Orang-orang berlalu-lalang melirik sedikit dan mengernyit tiap lewat, sesekali meneriakkan serapah yang tidak aku pahami. Aku tetap menjual maaf.

Aku menjual maaf. Berdoa kalau-kalau ada orang yang baru saja bertengkar, baru saja mencuri, baru saja mengumpat, baru saja membunuh, datang ke toko ini. Sekadar mampir dan melihat-lihat maaf yang kupajang rapi di rak kaca tembus pandang. Sekadar menampakkan wajah penyesalan. Bahkan sekadar bertanya berapa harganya?

Aku menjual maaf. Tidak bosan-bosannya menunggu pembeli meski belum kunjung ada yang menghampir. Mungkin setiap orang punya maaf sendiri-sendiri yang diciptakan hati mereka yang tulus dan ikhlas itu. Mungkin setiap orang sudah bisa memaafkan tanpa perlu membeli. Mungkin juga setiap orang sudah punya ribuan maaf yang imitasi.

Padahal maaf yang aku jual di sini sungguh asli.

Aku masih menjual maaf. Sampai singgah seseorang yang terisak dengan mata merah dan tangan menggenggam pisau berdarah suatu pagi, menunduk, kusut, kalut.

Aku beli semua maafmu.

(Photo from We Heart It)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s