Uncategorized

Suka dan Cinta


girl in train

Mereka bilang obat rindu adalah pertemuan. Mereka bilang pertemuan akan menguraikan rindu menjadi bulir-bulir kecil, memecahnya menjadi serpih, lantas tertiup angin dan hilang begitu saja. Mereka bilang pertemuan akan menyapu bersih rindu menjadi butiran ringan di udara, lantas lenyap dihanyutkan gerimis yang membentangkan udara lembab.

Aku ingin mengatakan itu pada angin,” sahutku. Menyunggingkan senyum pada awan yang mengepul seperti asap dapur di rumah-rumah pedesaan. Di depanku, seseorang berkemeja putih dengan motif ombak di kerah kirinya balas menatapku sebentar, lalu menoleh ke jendela kereta yang bergetar karena guncangan. Guncangan kereta yang halus memang tidak sampai membuat kami berpindah posisi duduk, tapi cukup kuat menggoyangkan rambut yang sedikit menutupi dahinya.

Di luar jendela tampak jelas pohon-pohon berbaris dengan kokoh, seperti berlari sepanjang mata karena kereta melaju cepat sekali. Di ujung-ujung rantingnya masih ada salju yang menempel bekas semalam, mungkin. Seharusnya musim semi sudah melelehkan salju-salju itu, tapi sepertinya masih ada dingin yang tersisa di jemari dedaunan dan semburat matahari belum mampu menghangatkannya.

Puitis lagi. Mungkin kamu harus merekam kalimatmu sekali-kali,” katanya bergumam. Kalimatnya barusan lebih mirip ditujukan pada dirinya sendiri ketimbang padaku, karena dia sama sekali tidak berpindah tatap dari jendela. Bahkan udara musim semi yang masih menyisakan dingin menjadikan uap dari mulutnya menjadi embun yang menempel di kaca kereta, langsung menghilang sekejap saja.

Ryouji-san…” aku berbisik. Saking pelannya aku tidak yakin dia bisa mendengarku.

Hm? Memanggilku?

Aku mau bertanya sesuatu. Pertanyaan yang aku ingin tujukan pada lelaki dewasa, jadi aku harap kamu menjawabnya. Tapi jangan tertawakan pertanyaannya, karena mungkin terdengar aneh di telinga laki-laki.

Bertanya saja.

Apa bisa kita mencintai dua orang berbeda di waktu yang sama?

Dia tampak tertegun sejenak, lalu menahan tawa. Aku bisa melihat dengan jelas pundaknya berguncang sedikit, lalu diam lagi. Setelah menghela nafas dan berdehem, dia melihatku dan bergumam. “Perempuan…

Jawab saja, Ryouji-san.

Dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengangkat sebelah alisnya. Seperti menyatakan “yang benar saja aku harus menjawab ini“, lalu tersenyum tipis. Getaran halus kereta masih menggoyangkan rambut yang menggantung di dahinya.

Menurutku tidak bisa. Kamu hanya bisa mencintai satu orang saja, jika ada lebih dari satu orang, pasti akan ada yang lebih berat. Pasti ada yang lebih kamu cintai dibanding yang lainnya. Namun akan berbeda jika pertanyaannya menjadi ‘Apa bisa kita menyukai dua orang berbeda di waktu yang sama?’. Jawabannya bisa. Karena rasa suka bisa dengan mudah timbul karena ketertarikan dalam hati dan pikiran. Tapi cinta… cinta itu lebih dalam lagi, Ai-san.

            Misalnya, kamu tidak bisa langsung mengatakan ‘cinta pada pandangan pertama’, bila getaran dalam hatimu belum cukup kuat untuk membuktikannya. Getaran yang ada dalam hatimu itu timbul dari rasa suka, rasa tertarik, bukan cinta. Cinta datang setelahnya… setelah kamu pelan-pelan mulai sering memikirkan, merindukan, bahkan mendo’akan. Yang akan membenarkan perasaanmu itu adalah ruang dan waktu. Mungkin saja kan, kalau dua orang bersama terus dalam satu waktu lama-kelamaan mereka akan saling menyukai hanya karena terbiasa? Tapi untuk tahu perasaan di antara mereka adalah cinta atau bukan, coba pisahkan mereka dalam jangka waktu yang lama. Perasaan mereka akan dibuktikan, apakah benar sesuka itu, apakah benar secinta itu… atau hanya semu belaka.

            Ai-san… sedang jatuh cinta… pada dua orang?

Aku menunduk, buru-buru menutupkan syal ke wajahku yang terasa panas. “Tidak… aku hanya ingin tahu pendapatmu dan… aku ingin memahami pikiranku sendiri.

Dia tertawa. “Jangan terlalu memaksakan perasaan seperti itu. Seringkali kita mengatakan cinta sekali pada dua orang berbeda, sampai-sampai tidak tahu harus memilih yang mana. Padahal kalau ditelusuri lagi, pasti ada yang lebih dicintai, pasti ada yang dimenangkan, pasti ada yang lebih diperjuangkan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, salah satunya hanya menjadi pelarian saja saat yang utama tidak ada di sisi kita…

Aku merasa rindu pada dua orang sekaligus. Aku paham, hatiku berat sebelah, Ryouji-san. Aku sangat merasakan itu. Tapi seperti yang kamu katakan, jarak dan waktu bisa menjadi penentunya. Apa gunanya cinta tapi terpisah jauh? Belum lagi tidak saling mengabari. Tidak saling sapa, tidak saling memberitahu kegiatan masing-masing yang sedang dijalani. Lama-lama terasa pudar… terasa hambar… aku bahkan bertanya pada diri sendiri, apa mungkin aku sebenarnya tidak secinta itu? Apa mungkin aku tidak tulus mencintai dia selama ini?

Ajaibnya… pertemuan bisa mengubah segalanya, Ryouji-san. Aku tiba-tiba merasa jatuh cinta lagi saat dipertemukan dengannya. Rasanya jantungku berhenti berdetak dan sekitarku berubah abu-abu karena seluruh perhatian ada padanya. Aku jatuh cinta lagi kesekian kalinya setiap bertemu kembali, setiap terpisah, lalu bertemu lagi… Pudar, muncul lagi cinta, pudar lagi, muncul lagi cinta. Aku tidak paham dengan hatiku, Ryouji-san…

Lalu seseorang muncul lagi dalam kehidupanku. Kali ini dia bisa, benar-benar bisa menjadi pendengarku yang baik. Dia bisa menjadi pengisi hari-hariku yang kosong karena kerinduan. Aku awalnya menyangkal perasaan aneh yang masuk dalam hati, tapi kemudian aku sadar bahwa aku cemburu setiap kali melihatnya tertawa bersama yang lain. Aku cemburu setiap kali melihatnya menelepon yang lain. Aku bahkan cemas saat dia tidak membalas pesanku, atau tidak mengirimkan pesan padaku. Bukankah ini aneh, Ryouji-san? Dia bukan siapa-siapa, tapi pelan-pelan dia berubah menjadi seseorang yang mengisi kekosongan dan aku merasakan ketergantungan padanya. Ini bukan cinta, aku menyangkal… tapi hatiku pelan-pelan membenarkan perasaan aneh yang menyerangku.

Dia memotong kalimatku dengan menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan. “Maaf, Ai-san… Kamu terlalu emosional. Atur nafasmu dulu, wajahmu merah sekali.

Aku terdiam, lalu melihat pantulan wajahku di kaca jendela. Hari mulai gelap di luar sehingga pantulan wajahku tampak jelas. Ini… konyol sekali.  “Maafkan aku…

Bukankah kamu sendiri yang bilang, life isn’t a shoujo? Bahwa hidup ini tidak seindah manga romantis yang sering kamu baca itu. Kisah cinta mustahil yang merupakan khayalan pengarang yang dituangkan ke dalam gambar sehingga tampak nyata dan membuat gadis-gadis pembaca merasa tergila-gila.

Ai-san, suka dan cinta memang tipis sekali bedanya. Saking tipisnya, seseorang bisa sulit membedakan perasaannya sendiri, apakah dia sedang suka atau cinta. Kamu bisa selalu menyukai tanpa mencintai, namun kamu tidak bisa mencintai tanpa selalu menyukai. Bukankah begitu? Saking tipisnya perbedaan yang ada, untuk tahu apakah itu suka atau cinta, kamu harus menciptakan penghalangnya, yaitu waktu dan jarak. Lagi-lagi, ini klise sekali dan kamu pasti sudah sering mendengarnya. Tapi percayalah, ini bisa membuktikan apa perasaan yang tumbuh dalam hatimu itu. Semakin kamu terpisah, jarak dan waktu, hatimu pasti semula merasa hilang. Semula merasa kosong. Lalu muncullah yang dinamakan rindu. Pelan-pelan, seiring waktu berjalan, rindu yang tumbuh bisa berkembang atau mati sama sekali. Tergantung kebenaran yang ada dalam hatimu. Bahkan sampai satu titik, kamu tidak merasakan apa-apa, karena hatimu seolah mati. Saat dipertemukan kembali, jika kamu jatuh cinta lagi dengan rasa yang sama, seolah jatuh cinta untuk kesekian kalinya… dan hatimu menerima apapun perubahan yang ada pada dirinya… boleh jadi itu memang cinta yang sebenarnya. Cinta yang sudah terlatih jarak dan waktu. Cinta yang sudah terlatih menahan rindu. Cinta yang sudah terlatih menerima sambil melepaskan. Cinta yang terlatih untuk yakin bahwa yang terbaik pasti akan dipertemukan, atau diganti dengan yang baru, yang tentunya lebih baik daripada yang sebelumnya diharapkan.

Tambahan, satu lagi. Ada sahabatmu yang menitipkan surat ini padaku. Dia ingin aku membacakannya untukmu. Jangan marah, ini adalah pengingat agar kamu sadar siapa yang sebenarnya ada dalam hatimu yang seperti labirin itu.


Ai-san, bisa saja kamu menyukai dia hanya karena memiliki kesukaan yang sama, pernahkah kamu membayangkan kalau kesukaan kalian berbeda, apa mungkin kalian akan sedekat ini, apa mungkin rasa suka itu akan tumbuh?


Aku menatapnya, kali ini tanpa paksaan. Seluruh rinduku sudah lepas. Bukan karena hatiku sudah mati, tapi rindu ini sudah menemukan tempatnya berlabuh.

Kalau begitu, terima kasih, Ryouji-san. Sekarang aku tahu siapa yang benar-benar aku cintai.”


Photo from We Heart It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s