Uncategorized

Kita


hugs

“Aku rindu saat di mana “kita” saling bertukar cerita.
Keadaan ini terasa berbeda jauh setelah di mana hanya ada aku dan kamu.

Tidak ada lagi “kita”.”

Goresan bait itu kubaca pagi ini dari status salah satu temanku di socmed. Aku termenung, duduk memperhatikan arloji tua yang sejak dulu bersemayam di saku jasku. Arloji itu berbingkai kayu tua. Kayu yang dibiarkan dewasa oleh waktu yang juga tua hingga akhirnya sampai di tanganku.
Ini bukan tentang arloji. Ini tentang waktu yang sedemikian hebatnya hingga menjadikan aku dan kamu menjadi “kita”, lalu dengan sedikit bumbu konflik dramatis, “kita” kembali menjadi aku dan kamu.

Aku tidak tahu ini tentang waktu atau cinta.
Apakah waktu yang mencipta masa-masa indah “kita” sampai aku bisa tertawa di sampingmu?
Sampai aku merasa rindu saat kamu tak di sampingku?
Sampai aku rela di bawah hujan menemuimu?
Sampai aku merasa kalut bila belum mendengar kabarmu?
Sampai aku yang bahagia hanya karena melihat senyummu?
Ataukah cinta yang mencipta semua hal tentang “kita” hingga aku dan kamu jadi bersama?

Aku meraih ponselku dan menelusuri daftar kontak. Masih ada namamu. Ya, masih. Aku tidak terkejut. Aku menyimpannya bukan karena aku ingin mengenang “kita”, tapi lebih tepatnya untuk menghormati waktu yang sudah menciptakan “kita” karena cinta
dan
memisahkan “kita” karena tidak ada cinta lagi.

Ini hanya permainan hati, kan? Hatiku dan hatimu sama saja, hati manusia biasa. Bila dekat terlalu lama bisa tumbuh rasa cinta. Bila konflik terlalu lama bisa hilang rasa cinta. Bila konflik mulai ada aku dan kamu mencari hati lain dan tumbuhlah cinta lagi dengan hati yang lain.

Itu semua permainan hati.
Hatiku dan hatimu yang belum bersikap dewasa.
Hatiku dan hatimu yang bilang cinta karena takut kesepian.
Hatiku dan hatimu yang masih belum bisa saling menjaga.
Hatiku dan hatimu yang membutakan diri dari dunia.
Hatiku dan hatimu yang berkata “kita” satu padahal bukan apa-apa.
Hatiku dan hatimu yang saling sayang tapi hanya di bibir saja.
Hatiku dan hatimu yang menyatu lalu terpisah lagi.

Inilah “kita” yang sebenarnya.
Mencintai padahal diri masih labil dan belum bisa mempertahankan satu sama lain. Ada bumbu konflik sedikit, “kita” retak. Berkata cinta tapi belum saling menjaga. Berkata cinta tapi belum utuh menyayangi. Berkata cinta tapi belum dewasa.
Ya, belum “dewasa”.
Itulah “kita”.

Aku meraih jasku dan pergi ke luar rumah. Menyusuri jalan berhujan dingin Januari. Sambil menggenggam ponsel, aku melihat lagi namamu di daftar kontakku. Aku tersenyum kecil dan menekan “delete”.
Ponselku bertanya “delete? Yes/No?”
Ibu jariku bergerak menekan tombol “Y” di keypad.
Seketika di layar ponsel tertulis “done”.

Aku tahu dengan aku menghapus namamu, aku tidak lagi menghormati waktu. Biarlah, aku ingin bebas dari kamu, sehingga tidak ada lagi tentang “kita”.

Aku melihat sekeliling. Ada kios kecil yang menjual kopi. Kopi bisa menghangatkan diriku yang dingin. Tapi tidak hatiku yang sudah beku ini.

“Jangan lanjutkan kebekuan hatimu.”

Aku menoleh. Masa depan berdiri di hadapanku. Di tangannya juga ada secangkir kopi. Dia tersenyum. Senyuman termanis yang pernah kulihat di dunia ini.

“Kamu di sini?” aku meneguk kopi pagi pertamaku dan menunduk. Tidak mau terlalu lama memandangi senyuman itu.

“Aku masa depan.
Aku memang selalu dekat denganmu dan merupakan bagian dari dirimu. Kamu suka kan melihat aku tersenyum? Itu juga yang akan terjadi padamu nanti jika kamu mencairkan kebekuan hatimu.”

“Mencairkan kebekuan hati?” aku bertanya, penasaran. Menatap masa depan sekali lagi. Dia masih berdiri tanpa meneguk kopinya.

“Ya, mencairkan kebekuan hati dengan berhenti memikirkan, membicarakan, menulis, menyimpan, mengenang, menangisi, menyebut, dan melakukan semua hal yang ada hubungannya dengan “kita”.
Berhentilah. Cukup dia masa lalumu. Sekarang cuma ada “aku” dan “kamu”.
Tidak ada “kita”.
Temukanlah “kamu” yang lain dan ciptakanlah “kita” yang baru.”

Aku menangkap perkataannya. Dia benar.
Buang “kita” yang lama dan ciptakan “kita” yang baru dengan orang lain yang lebih baik dari “kamu” untuk menjadi pasangan “aku”.
Mulai membuka hati lagi dan menjadikan “kita” sebagai pelajaran hidup yang indah dan bermakna.

Bagiku, aku, kamu, dan “kita” hanyalah permainan waktu. Aku akan selalu bertemu dengan orang-orang baik yang pantas aku cintai dan pantas mencintaiku.
Tidak pernah ada alasan untuk jatuh kembali ke lubang masa lalu. Kamu yang pernah aku jadikan sandaran, sekarang tidak bisa lagi, kan? Itulah pelajaran tentang “kita”.

Pelan-pelan tapi pasti, akan muncul “kita” yang lain.
Bukan lagi dari aku dan kamu,
tapi dari aku dan dia,
dari kamu dan dia,
atau dari dia dan dia.

Ya, inilah kisah “kita”.

____________________

(Photo from We Heart It)

2 thoughts on “Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s