Uncategorized

Restu


together

                “Aku tidak tahu bagaimana seorang perempuan bisa setia pada satu lelaki, saat kamu bisa begitu mudahnya menemukan ribuan lelaki lain yang juga sama-sama baik atau bahkan lebih baik dari yang kamu temukan sekarang. Bahkan lebih pasti, tidak perlu melalui penantian panjang. Kenapa masih ada perempuan sepertimu yang memilih menunggu lelaki yang bahkan kamu tidak tahu perasaannya padamu?

Aku melontarkan pertanyaan tanpa ragu pada sosok di hadapanku yang tidak bergeming, justru balas menatapku lamat-lamat. Kalimatku seolah memantul di langit-langit, berbaur dengan musik klasik di udara. Bertabrakan, lalu pecah tidak tersisa. Langit jingga menjadi latar tempat duduk kami, dramatis, tapi suasana kami saat ini tidak dramatis. Kami menyesap teh kami masing-masing, lalu terdiam lagi.

Bisa. Kamu hanya belum tahu hati manusia bisa menyimpan perasaan yang begitu dalam. Perasaan itu layaknya air yang direbus. Meletup-letup, berbuih di permukaannya. Kalau api cinta terlalu besar, buih air bisa meluap dan tumpah begitu saja. Kalau sudah tumpah tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Itulah perasaan. Cinta dan rindu yang meledak-ledak dalam dada, disimpan saja dalam hati. Mungkin untuk saat ini terasa sesak karena ingin disampaikan segera. Tapi disampaikan atau tidak, cinta tetap cinta, rindu tetap rindu, tidak berubah. Bahkan saat kamu sampaikan pun, bisa jadi rindumu bukannya reda, tapi justru semakin membanjiri dirimu sendiri, hingga kamu tenggelam di dalamnya tanpa sempat melakukan apa-apa.

                “Kamu mungkin bisa menemukan begitu banyak lelaki lain yang lebih baik dan lebih dekat denganmu dibanding dia yang kamu tunggu, tapi rasanya berbeda. Jika kamu sudah jatuh cinta pada satu orang dan cintamu benar-benar cinta yang tulus tanpa alasan, kamu akan tetap memilih dia walau banyak orang lain yang dikatakan lebih baik. Kenapa? Karena hatimu yang memilih. Karena untuk sementara, logikamu lumpuh dan menerima semua yang ada pada dirinya. Yang ada dalam pikiran dan hatimu, hanya dia yang bisa membuat kamu bahagia kelak saat bersamanya. Bagaimana tidak? Melihatnya saja sudah bisa membuat senang, memikirkannya saja sudah bisa membuat girang, apalagi bersamanya.

                “Tapi manusia yang punya rencana, Tuhan yang menentukan, Tuhan yang merestui. Kebanyakan manusia terlalu memaksa untuk dipasangkan dengan orang yang menurutnya terbaik. Sayangnya yang terbaik menurut manusia belum tentu terbaik menurut Tuhan, terutama soal pasangan hidup, orang yang akan menghabiskan waktu bersama kita sepanjang usia nantinya. Alangkah baiknya jika sudah mempunyai seseorang yang didamba, kita menjaganya dengan menitipkannya pada Tuhan. Kita mungkin tidak tahu apa-apa tentang orang itu. Yang kita tahu hanyalah dia baik, dia menarik, dia rupawan, dan lain-lain, tapi kita tidak tahu di balik itu apa yang tersembunyi dari dia yang tidak terlihat oleh kita? Bisa saja itu justru akan membawa keburukan bagi kita jika nanti bersama.

                “Karena Tuhan yang paling tahu, Tuhan adalah tempat menitipkan dan memohon yang paling baik. Tuhan tahu seseorang cocok dengan kita atau tidak. Kalau cocok, banyak-banyaklah bersyukur. Kalau tidak cocok, jangan memaksa Tuhan untuk menjadikan kita cocok. Rencana Tuhan selalu yang terbaik. Jadi jika kamu bertanya barusan, bagaimana seorang perempuan bisa setia pada satu lelaki seperti yang aku lakukan sekarang, itu semua aku lakukan dengan do’a yang kupanjatkan setiap hari.

                Aku tahu mungkin terdengar naif bagimu, tapi aku ingin mempertahankan lelaki itu. Aku ingin memintanya pada Tuhan agar dijadikan milikku dan aku dijadikan miliknya. Karena dia milik Tuhan, maka boleh aku minta dia pada Tuhan. Soal jadi atau tidak, itu restu dari Tuhan. Satu hal saja, aku berusaha meyakinkan Tuhan dengan memantaskan diriku untuk bersama dia, sambil kuiiringi dengan do’a yang tidak ada putus-putusnya.

                Semoga kamu mengerti.

Dia menutup kalimat panjangnya dengan satu senyuman. Entah kenapa suasana yang awalnya keras, kini berubah menjadi nyaman. Aku menyesap teh di cangkirku lagi, kali ini sambil berpejam. Hangatnya masuk melalui kerongkonganku dan manisnya menempel di lidahku.

Cinta memang luar biasa.

Apalagi jika Tuhan yang merestuinya.

_____________________

Photo from We Heart It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s