Uncategorized

Hujan Berbicara


hujan

Apabila hujan bisa berbicara, aku yakin akan ramai gemerisik do’a-do’a yang melantun melayang di udara, berbaur dengan debu yang basah, melesak terjun ke tanah…

***

            Aku menatap ke luar jendela dari balik punggungmu. Ada hujan deras yang membawa angin bersamanya siang ini. Sesekali terdengar gemuruh dan cahaya putih menyilaukan dari langit, seperti sorot lampu panggung. Sayangnya aku tidak berada di atas panggung saat ini. Aku menunggu hujan reda, atau lebih tepatnya menunggu hujan deras berangin ini berubah jadi gerimis.

Di depanku ada kamu, berdiri tetap tegak menatap bulir-bulir hujan yang sesekali menabrakkan diri ke jendela, menciptakan gurat-gurat air di permukaan kaca. Mungkin ini aneh, tapi aku senang menatapmu meski dari belakang. Aku bisa melihat rambutmu pelan tertiup angin yang lolos masuk lewat celah vantilasi. Aku tidak tahu saat ini, saat kamu menatap jendela basah itu, kamu sedang tersenyum atau berekspresi datar-datar saja. Yang pasti kamu tidak menangis, aku bisa menjamin itu karena tidak kulihat pundakmu bergetar seperti yang biasa terjadi pada mereka yang menangis.

Di ruangan ini bukan hanya kita yang menunggu hujan reda. Ada belasan orang lain yang juga melakukan hal yang sama. Tapi mereka tidak mempedulikan hujan di luar jendela, mereka sibuk dengan diri masing-masing, berecengkerama satu sama lain, atau ada juga yang memandangi layar ponselnya berkutat dengan social media. Lalu kenapa kita berdua sama-sama melihat jendela sejak hujan datang? Di ruangan yang ramai ini, aku merasa hanya suara hujan yang redam terdengar. Seperti risik yang berdebam memanggil-manggil untuk segera keluar, menari di bawahnya, tertawa-tawa dalam keadaan kuyup, seperti yang biasa dilakukan saat kanak-kanak dulu.

Ralat, lebih daripada hujan, aku lebih memperhatikan kamu sejak hujan datang. Kamu yang berdiri menatap hujan di luar jendela. Aku tidak tahu pikiranmu, tapi mungkinkah hujan kali ini membawa kenangan tertentu yang membuatmu ingin mengingatnya? Bukankah selama ini begitu? Hujan selalu bisa membangkitkan kenangan dalam pikiran manusia saat menatapnya. Hujan seperti sihir yang membuat manusia takluk pada masa lalunya. Hujan seperti melahirkan resonansi yang membawa manusia pada masa lalu. Hujan seperti……..

Aku terhenti. Kamu berbalik dan kulihat ekspresimu terkejut saat melihatku duduk di belakangmu. aku yakin yang barusan aku lihat adalah ekspresi terkejutmu, tapi kamu menyembunyikannya dengan langsung melihat ke arah lain. Hujan belum reda, tidak mungkin kamu ingin pulang berhujan, kan? Lalu untuk apa kamu berbalik dan seolah ingin beranjak? Tunggu, aku tidak pernah bisa membaca pikiranmu, meskipun sangat ingin. Berhentilah terlalu misterius, aku tahu ada yang kamu simpan dalam hatimu. Ada nama yang bisa membuatmu tersenyum saat mendengarnya. Ada orang yang bisa membuatmu berdebar saat di dekatnya. Tidak tahu siapa, tapi pasti ada, bukan?

Lalu semua tanya berkecamuk di kepalaku. Kamulah penyebab semua tanya ini dan kamulah yang memiliki jawabannya. Bukankah mengesalkan saat kamu tahu bahwa hatimu terus bertanya tentang seseorang sementara akalmu lumpuh saat ingin menerka jawabannya? Bukankah naif saat kamu tahu bahwa hatimu terus menebak-nebak tentang seseorang sementara akalmu lumpuh saat ingin menghentikannya? Bukankah konyol saat kamu tahu bahwa hatimu berharap kamu mendapat jawabannya sementara akalmu lumpuh saat berusaha menggagalkannya?

Hujan masih deras. Dingin mulai memeluk semua orang di ruangan ini. Angin yang lolos masuk lewat ventilasi semakin banyak, sementara kami di dalam ruangan tidak punya pertahanan apa-apa selain jaket yang tidak terlalu tebal yang melekat di tubuh kami. Aku menatap ke luar jendela, tapi aku terhalang tubuhmu yang berdiri tegak di depanku. Aku mendongak dan kusadari mata kita bertemu satu sama lain, lalu saling membuang pandangan ke arah lain. Aku segera berdiri, beranjak meninggalkan ruangan. Tidak, aku tidak boleh terus berada di sini. Aku bahkan bisa mendengar debar jantungku sendiri saat ini.

Mau pulang?

Gemetar, aku berbalik arah mencari suara yang sangat kukenal sebagai suaramu. Tidak sampai satu menit, kamu sampai di hadapanku dan menyodorkan sesuatu. Sepasang sarung tangan.

Duh, jangan hujan-hujanan, lah. Nanti alergi dinginmu kambuh. Lebih baik tunggu agak reda, sebentar lagi. Nanti kutemani pulang. Pakai sarung tangannya.”

Aku… tidak bisa mengungkapkan apapun selain seulas senyuman yang canggung. “Terima kasih.”

***

Apabila hujan bisa berbicara, aku yakin akan ramai gemerisik do’a-do’a yang melantun melayang di udara, berbaur dengan debu yang basah, melesak terjun ke tanah. Mungkin salah satunya adalah do’amu yang kamu panjatkan diam-diam pada Tuhan tanpa ingin diketahui siapa-siapa, namun sayangnya hujan menguping obrolanmu dengan Tuhan. Lalu saat hujan turun pada bumi, dia uraikan apa yang didengarnya tengah malam itu, diam-diam ikut mewujudkan do’amu,

___________________

Photo from We Heart It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s