Uncategorized

Memenangkan Kamu


time

Aku pernah menemukan kalimat ini dari socmed seorang temanku.

Karena suatu hari orang yang ngomong ‘Udah makan belum?’ bakal kalah sama yang ngomong ‘Makan bareng yuk’.

Karena suatu hari orang yang selalu bilang ‘Aku kangen kamu’ bakal kalah sama orang yang bilang ‘Kamu di mana? Aku samperin ya kita jalan bareng’.

Karena suatu hari orang yang selalu bilang ‘Kamu bisa pulang sendiri kan? Apa perlu aku jemput? Di mana? Jam berapa?’ bakal kalah sama yang bilang ‘Aku udah di depan nih nungguin kamu. Pulang bareng yuk’.

Karena pada akhirnya semua tipe dan kriteria yang kamu punya akan dikalahkan oleh dia yang punya waktu untuk menyamankan hidupmu.

 

Aku tidak tahu definisi kalah yang sebenarnya saat membicarakan cinta. Kenapa hati begitu teguh dan kuat mempertahankan seseorang yang menurutku ideal sementara aku bisa saja menemukan seseorang yang lebih baik untukku di luar sana, jika aku membuka mata lebih lebar lagi dan meninggalkan sisi idealku. Sayangnya aku lebih memilih menyipitkan mata, lebih memilih membatasi pandanganku hanya untuk dia yang aku anggap sosok paling idealku. Bahkan sampai saat ini pun aku tidak tahu apakah waktu benar-benar akan menepati janjinya menghadiahkan seseorang yang terindah untuk aku, yang aku harap adalah dia yang ideal di mataku.

Ke mana aku mencari rasa nyaman, jika bukan dengan cara memikirkan dia dan membenarkan hati atas semua kejadian-kejadian kebetulan yang aku anggap benar adanya sebagai balasan atas perasaannya padaku? Setiap kali kami bertemu, aku bisa merasakan jantungku memompa lebih keras dan aku bisa mendengar degupnya di telingaku sendiri. Saat itulah yang kulihat abu-abu. Semuanya abu-abu kecuali dia. Semua warna sudah direbutnya, termasuk warna yang aku miliki. Begitu pasrahnya aku mengikuti langkahnya, memperhatikannya sampai ke detail terkecilnya, begitu teliti aku mengaguminya.

Aku sudah dirasuki sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Bukan makhluk halus, aku dirasuki oleh diriku sendiri. Diri sendiri yang kehilangan logikanya, yang menghapus semua buruk yang dia punya sehingga dia menjadi sosok paling ideal di pikiranku. Aku pasti sedang bergurau jika mengatakan ingin terus menatapnya seperti itu, mengaguminya segila-gilanya, dan berdebar setiap kali di dekatnya.

Tidak, aku dan dia selalu berada dalam jarak.

Tiga puluh sentimeter.

30 cm.

Bukan tentang jarak kali ini, tapi aku sudah mulai gila dan buta oleh diriku sendiri. Kenapa dia yang terasa jauh dan tidak berkabar setelah ini masih kuharapkan juga? Aku bahkan membenarkan diriku untuk tetap berdo’a meminta agar aku dan dia selalu dijaga ikatannya. Entah, jika kalimat di atas itu benar, dia akan kalah oleh orang lain yang membuatku nyaman, yang selalu ada untuk aku di sini, yang berusaha datang tepat waktu untuk sekadar mampir memberi kabar, yang mengatakan akan selalu menjagaku berkali-kali, yang dengan gigih berusaha meyakinkan aku bahwa dia bisa terus di sampingku.

Tapi dia akan tetap menang jika aku membuat dia menang. Dia akan tetap menang jika aku tetap teguh menjaga sosok idealku sampai waktu yang aku tidak tahu kapan. Entah, jika kalimat di atas salah, dia akan menang jika aku gigih mempertahankan keberadaannya di pikiranku, jika aku sabar menunggu keadaan terbaik, jika… jika aku tidak goyah pada keyakinanku.

Menang atau kalah, aku mengerti posisimu saat ini. Posisi kita saat ini.

Meski naif, lugu, keras kepala, dan egois, aku mau memenangkan kamu. Aku memilih kamu menang. Aku memilih kamu ditempatkan sebagai sosok idealku, bukan dia yang justru akan mengalahkan kamu. Karena layaknya dendam, cinta harus dibayar tuntas. Jika kamu berhasil membuatku menang dengan membuatku selalu mencintai kamu, aku juga akan membuat kamu menang dengan tetap mencintai kamu.

Kamu, sampai bertemu empat tahun lagi dalam keadaan menang.

 

(Photo from http://www.weheartit.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s