mind self

Buntu


Tiada titik temu

aku dan kamu, selesai

?

Tiada jalan keluar

large



Sepanjang hari-hari yang mulai terasa kosong ini, lembar-lembar buku catatanku tidak terisi penuh. Meski terisi, banyak ruang-ruang kosong yang diisi coretan asal. Renggang, tapi tidak ada maknanya. Seharusnya ada hal berguna yang kutulis, dengan huruf kecil-kecil, rapat-rapat. Huruf-huruf yang biasanya mampu menjagamu lekat-lekat dan terkunci di antara barisnya yang kuat. Kali ini saat kamu tidak ada, renggang pula huruf-huruf itu, dan harus aku akui dengan rendah hati. Aku tidak bisa menulis apa-apa.

Bagiku sudah semestinya kamu memberi kabar setiap hari, atau paling tidak setiap merindukanku. Eh, percaya diri sekali? Tidak juga, kok. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu masih mengingatku dengan baik, di sana. Aku rindu dan sudah berulang kali aku katakan bahwa aku rindu, aku rindu, AKU RINDU sekali. Aku tidak mungkin menuliskan semua kerinduan ini ke dalam tulisan nyata dan memajang namamu jelas-jelas di setiap tulisanku. Hanya untuk memastikan kamu membacanya. Kamu terlalu cerdas untuk menerima kode yang mudah dipahami. Kamu semestinya paham dengan tulisan-tulisan acak yang selama ini aku ketikkan di mana-mana, bahwa itu berujung pada satu orang. Siapa lagi yang aku punya untuk aku rindukan? Jadi jangan bertingkah tidak paham. Aku tahu kamu sebenarnya mengerti. Sangat.

Tidak mungkin aku membenci segala sesuatu yang kita ciptakan sama-sama. Sebutlah kenangan kita satu per satu. Bohong jika kau bilang lupa, atau tidak ingat pernah bersama. Kita pernah sangat dekat sampai orang-orang mempertanyakan apa makna kedekatan kita ini, yang aku dan kamu bahkan tidak tahu cara menjelaskannya. Kupikir dengan dekat seperti ini akan baik-baik saja, selama aku masih bisa melihat kamu berada di sekitarku, berada dekat denganku, dan masih memberikan tatapan (secuil saja) kepadaku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi agar kamu tahu bahwa kita pernah sangat dekat dan aku ingin masa itu terulang lagi. Setidaknya, sedikit saja aku ingin.

Aku ingin kita bicara banyak berdua saja sebelum kamu pergi dan aku harus membentang jarak lagi. Aku tidak minta diingat, aku hanya ingin kita tetap menjadi teman baik yang saling kenal, bukan menjadi seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Tenang saja, aku akan selalu berdiri di sini. Mungkin aku juga akan duduk sesekali, tapi tidak pindah tempat. Semoga kelak jika kamu mencari, aku masih duduk sendiri. Jangan sampai di sampingku nanti sudah ada orang lain yang duduk menemani, dan kamu terburu-buru menyesali yang sudah pernah terjadi. Jangan sampai.



Photo from We Heart It.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s