mind self

Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni,

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono

 large (1).jpg


Sewaktu di Sekolah Dasar, aku pernah diajari tentang angin muson timur, muson barat, musim, dan iklim yang ada di Indonesia. Aku masih ingat, buku dan guru mengatakan bahwa angin muson barat yang terjadi pada bulan Oktober-Februari mengandung banyak uap air sehingga menjadi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, menjadikan negara ini bermusim kemarau di bulan April sampai Agustus, bermusim hujan di bulan Oktober sampai Februari, dan musim peralihan pada Maret-April dan September-Oktober.

 

Aku selalu percaya bahwa Juni adalah milik kemarau, Juni tidak pernah direbut hujan selama ini. Hujan tidak memiliki Juni dan tidak pernah singgah meski (mungkin) Juni merindukannya.

 

Aku lalu membaca puisi Pak Sapardi tentang hujan di bulan Juni dan semakin mempercayai itu.

 

Beberapa tahun terlewati dan aku masih percaya bahwa Juni tidak disinggahi hujan. Sampai suatu hari di balkon asrama, sepulang kuliah aku mendengar rintik yang jatuh menabrak atap dan terjun satu per satu dari langit, seperti jarum-jarum kecil yang menyapu pandangan dengan suara risik. Aku menoleh dan menghadapi jutaan jarum itu menari tertiup angin, menderas tapi tidak terlampau ganas, memercik rumput dan daun-daun pohon yang kekeringan. Aku menyaksikan hujan membasuh daun-daun di tanah itu, bergemuruh di langit itu, mengalir di saluran itu. Tidak ada debu hari itu, tidak ada suara angin yang biasanya siut saat aku menutup pintu, tidak ada suara gumaman dari orang-orang yang mengobrol di lantai bawah sana. Hujan sudah membuat duniaku kedap. Hujan menutup semua suara lain dan hanya mengizinkan aku mendengarkan dia.

Sungguh egois.

Hari itu aku percaya bahwa rindu hujan untuk Juni sudah tersampaikan.

 

Di tingkat tiga, aku menjadi asisten mata kuliah Hidrologi. Hampir semua yang dibahas di mata kuliah ini adalah hujan. Curah hujan, intensitas hujan, frekuensi hujan, durasi hujan, debit limpasan hujan, dan perilaku hujan itu sendiri. Dosen mengatakan bahwa hujan tidak bisa diukur dengan pasti layaknya kita memprediksi pertumbuhan penduduk. Kita tidak tahu hujan akan datang kapan, meski kita bisa memprediksi dia akan datang dalam rentang bulan apa, tanggal berapa, hari apa. Tapi kita sangat tidak bisa menebak apakah dia benar-benar akan datang, Kita tidak tahu apakah hujan akan datang siang ini, atau bahkan sekarang. Hujan akan datang saat dia ingin datang. Dia akan menggerimiskan bumi dan meresap sampai ke dasar. Bila bumi sudah jenuh, dia akan mengalir ke muara. Bukankah sederhana?

Tapi percayalah, kamu tetap tidak akan bisa menebak isi pikiran hujan.

Bila tidak percaya, coba kau undang dia datang ke rumahmu malam ini.

 

Satu hal yang kupelajari (dari banyak hal-hal lain tentang hujan) adalah durasi hujan yang datang menjengukmu. Sampai-sampai aku berdo’a suatu malam untuk selimut yang lebih hangat, untuk genggam yang lebih lekat, juga rindu yang lebih lekat.

 

Pada hujan malam ini aku berdoa

untuk selimut yang lebih hangat

genggam yang lebih lekat

juga rindu yang tidak terlalu deras

Karena kita sama-sama tahu bahwa

hujan yang lebih deras di luar itu

lebih cepat reda dan habis waktunya

dibandingkan satu-dua ricik gerimis

yang lama meresap di pori-pori tanah

juga kepala kita berdua

 

Meski hujan tidak bisa kupahami dalam-dalam, aku tetap bisa merasakannya setiap kali dia datang dan mencuri semua pendengaranku hingga hanya dia yang aku dengar. Seperti saat ini, di kota yang setiap hari berisik oleh roda dan klakson kendaraan, juga langkah-langkah kaki buru-buru mengetuk aspal, hujan tiba-tiba datang tanpa gerimis dulu. Seperti ember yang jatuh, seperti rindu yang tumpah, dia menghamburkan dirinya ke bumi dan menyapu semua debu di udara (yang biasanya masuk ke dalam kamarku dan mengendap di sudut-lekuk lemari). Seketika langit sembab dan basah, juga aku. Menarik selimut, aku memandangi hujan di luar dari pintu yang kubiarkan terbuka, agar hujan bisa datang bertamu bila dia mau. Hari itu Juni, dan hujan menyampaikan rindunya.

 

Semoga memang tidak salah kali ini, bahwa rintik rindu rahasia yang tidak terucapkan karena ragu-ragu, sudah diserap akar pohon bunga itu.

fotohujan.png


Please watch🙂

On the Eighth Day, Before the Rain Stops. [Suzumu feat. Hatsune Miku]


(Photos from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s