mind self

Melupakan


large

 

Bagaimana jika kita tidak bisa saling melupakan?

Suaramu menggantung dan terdengar serak. Ada jeda di antara ucapanmu barusan dan nafasmu yang langsung berubah menjadi uap putih di depan wajah. Putih. Hangat. Justru terkadang uap itu yang aku rindukan, saat kita mengobrol dan tertawa seiring hembusan yang keluar dari mulut kita masing-masing. Paling tidak ada percakapan di antara kita berdua, tidak hening, dank au tidak menolak untuk menemuiku.

Aku bisa melupakan kamu, dengan mudah. Entah kenapa manusia suka sekali bertanya tentang bagaimana cara melepas dan bagaimana cara melupakan… tanpa berusaha untuk menjalaninya lebih dulu. Kamu tidak bisa melepas dan tidak bisa melupakan semata-mata karena kamu membiarkan kenanganmu penuh membanjiri setiap lekuk pikiranmu, sehingga kenangan tidak menjadi sesuatu yang kadaluarsa. Manusia tidak suka berpaling dari hal-hal yang mereka cintai… meskipun sudah disakiti oleh hal tersebut. Itulah yang menjebakmu untuk tidak beranjak, menjebakmu untuk tetap tinggal dan tenggelam dalam kenanganmu sendiri. Padahal yang kamu ratapi sudah lama pergi darimu.

Aku menghembuskan uap dari mulutku. Rintik-rintik hujan terasa lebih pilu dari biasanya, tapi aku rindu. Rindu pada kita yang dulu, entah kita yang seperti apa. Aku tidak pernah membayangkan mengingatmu dan bersamamu ternyata seperti meneteskan dan menggoreskan tinta di buku-buku. Pada akhirnya, sebuah kisah harus memiliki akhir. Sementara di buku kita, aku masih menggenggam pena, tapi kamu sudah berhenti mengisikan tinta. Halaman-halaman kita belum diselesaikan kalimatnya, terlanjur usang dan pucat kertasnya.

Kita harus berhenti sekarang. Kita perlu keras pada diri kita sendiri, untuk tidak cengeng dan tidak membiarkan luka terlalu lama menganga. Jika kita memang harus melupakan, biarkan saja kebersamaan yang dulu pernah ada direnggut dan dihabisi oleh waktu. Kisah kita tidak perlu dihapus, kita-lah yang harus tangguh menghadapi perlombaan dengan waktu. Luka memang masih perih, tapi jika terus meratap, dia tidak akan sembuh sendiri.“ aku menutup percakapan dengan beranjak dari bangku tua yang kita duduki. Mungkin setelah hari ini, aku enggan kembali ke sini. Aku tidak ingin melupakan sepertimu, aku hanya perlu menyembuhkan luka-luka yang masih perih karena menimbun harapanku sendiri.

Aku selalu percaya dua orang yang dipisahkan saat ini akan disatukan lagi di masa depan… jika mereka memang ditakdirkan bersama,” kamu bergumam sesaat setelah aku beranjak.

Aku tersenyum simpul. “Sayangnya aku tidak bisa jatuh cinta dua kali pada orang yang sama, setelah berpisah sebelumnya.

—9:14 PM ; 17/2/16

***

“Lalu seperti angka-angka balok di kalender usang itu
kau terus coba hantuiku dengan jarak dan waktu. Bukankah pengecut, yang mau bersama hanya karena sudah lama ditelantarkan sepi?”

Goresan Hijau Biru


Photo from We Heart It

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s