mind self

Bersiap Kehilangan


image

“Apa kita harus sakit dulu, untuk tahu siapa yang benar-benar peduli pada kita?”

Hujan menyambar jendela rumah sakit. Di luar sana, deru kendaraan bergumul jadi satu, bercampur dengan hujan. Lampu-lampu menyala satu per satu, tapi tetap menyisakan gelap di lekuk-lekuk sudut kota yang tidak terjangkau cahaya. Aku menutup jendela, menghalau angin, memikirkan jawaban atas pertanyaanmu. Aku tidak paham kenapa kamu merasa perlu bertanya, padahal sudah jelas aku yang akan datang.

“Aku yang akan datang,” gumamku. Berbalik ke arahmu, lalu duduk di kursi pinggir ranjang, merapikan tali infus yang tersambung ke pembuluh darahmu. Sakit, aku tahu, meski tidak merasakannya langsung. Tapi setiap rasa sakit yang kamu terima, aku juga merasakannya, bahkan lebih perih.

“Kalaupun bukan aku yang datang, misalnya karena kita tidak dipertemukan, aku yakin ada seseorang yang menemanimu di sini.
Kamu tidak tahu, ada orang-orang yang mendo’akan kebaikanmu. Ada orang-orang yang berdo’a untuk bisa tetap denganmu. Jangan bertanya, aku mohon. Kamu selalu banyak pertanyaan.”

Kamu tertawa, meski aku tahu pasti sakit harus menahan getar di badanmu itu akibat tawa sendiri.
“Kita tidak tahu siapa yang akan setia menemani dalam kondisi sulit. Sama seperti kita tidak tahu kapan seseorang pergi dari hidup kita. Seseorang yang berjanji untuk tetap tinggal pun, bisa saja pergi tiba-tiba tanpa kabar.
Aku benci kehilangan dan benci ditinggalkan. Karena itulah, aku selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk, yaitu kehilangan.”

“Daripada bersiap kehilangan, aku memilih mencegah itu terjadi,” aku menatapmu, lekat. Aku tahu rasa takut masih menghantuimu. Takut kehilangan. Tapi aku yang akan meredakannya. Aku janji, aku sudah berjanji untuk melakukannya.

Kamu tersenyum, entah apa maknanya. Jangan tanya aku. Aku tidak tahu cara membaca pikiran orang lain hanya dengan melihat senyumannya. Aku masih ingat, saat kamu tiba-tiba jatuh pingsan di tengah acara kelas yang sedang kita lakukan. Tanganmu dingin, dan aku bingung, panik. Kutebak, kamu pasti tidak sarapan lagi, terlambat makan siang dan saat itu sudah pukul tiga sore. Diguyur gerimis, aku menggendongmu ke ambulans yang langsung meluncur ke rumah sakit terdekat. Dokter mengatakan kamu kelelahan. Ya bagaimana tidak, jika kamu memaksakan diri kuat melakukan aktivitasmu tanpa makan teratur dan istirahat yang cukup? Lalu saat kamu siuman, kamu hanya berbisik, “Terima kasih sudah mengantarku ke sini. Aku akan jaga diri supaya kamu tidak repot lain kali“. Entah apa jaga diri yang kamu maksud, kamu sepertinya tidak benar-benar melakukannya sampai harus berakhir di rumah sakit dan dipasang selang infus hari ini, hanya dengan jeda dua minggu.

“Jadi kamu masih ingin bersiap kehilangan?” tanyaku.

Kamu mengangguk. “Tapi aku juga bersiap untuk menjaga apa yang aku punya sekarang, agar tidak hilang.”

Kita saling bertatapan. Pendingin ruangan mendadak terasa tidak berfungsi. Aku merasa hangat menyelubungi hatiku, tidak tahu apakah dia merasakannya juga atai tidak. Di luar masih gerimis, tapi aku tidak lagi mendengar apapun kecuali denyut jantungku sendiri.

“Aku janji tidak akan pernah pergi. Kalau aku pergi, aku tahu ke mana aku harus pulang.”

_____________________________________
Photo from We Heart It

One thought on “Bersiap Kehilangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s