mind self

Limit


Sore ini di bawah guyuran hujan, satu per satu lampu-lampu jalan menyala dan berlomba dengan jatuhnya rintik ke tanah. Udaranya dingin dan berangin. Aku menyusuri jalan pulang menuju kost dan berhenti di sebuah warung makan pinggir jalan. Baru saja menunggu beberapa menit, pengamen mulai berdatangan. Aku memperhatikan sekelilingku. Orang-orang tak acuh dan membiarkan pengamen bernyanyi. Memang ada beberapa pengamen yang tidak terlalu menghibur sehingga terkesan mengganggu, tapi ada juga yang bersuara bagus dan rasanya pantas jika dia dibayar untuk menghibur. Salah satu pengamen menghampiriku, seorang pria tua yang meniup suling bambu. Aku melamun agak lama karena pesananku belum juga datang dan sedikit terkejut pengamen ini memainkan sulingnya di dekatku. Aku mengambil dompet di dalam tas dan mengambil receh yang ada. Di depanku juga ada seorang pria dan seorang wanita yang sama-sama menunggu pesanan. Mereka mengabaikan pengamen tersebut. Aku yang merasa tidak punya urusan lagi dengan pengamen itu kemudian menyandarkan kepalaku ke tas yang kuletakkan di meja. Aku tertegun, seberapapun mengganggunya pengamen, kita memang punya hak untuk tidak memberinya uang, tapi jangan sampai rezeki orang lain tertahan di kita.

Menahan rezeki… ini merupakan bahasan yang menarik. Aku pernah menginap di sebuah hotel dan layaknya hotel, parkirannya penuh dengan mobil-mobil orang yang menginap. Malam hari itu hujan deras sekali dan aku tahu mobil yang diparkir di luar pasti basah dan kemungkinan besar jadi kotor. Keesokan harinya, aku keluar hotel dan aku temukan satpam-satpam sedang mencuci mobil-mobil tersebut. Cuci mobil itu memang termasuk dalam pelayanan hotel, jadi tanpa diminta pun mobil yang diparkir pasti akan dicuci oleh satpam-satpam itu. Kemudian ada seorang wanita yang menuju mobilnya, dia sudah selesai menginap, dia pergi dan sebelum berlalu dia memberi tip Rp10.000 pada satpam yang mencucikan mobilnya. Aku yakin itu nilai yang kecil untuknya tapi kata-kata wanita itu masih mengena di pikiranku.

“Kita jangan menahan rezeki orang lain. Tuhan akan memberikan rezeki pada hamba-Nya, kan? Bisa saja dalam harta yang kita punya terselip rezeki-rezeki orang lain. Bisa saja Tuhan percaya kita akan menyalurkannya dan menolong sesama tanpa menahan harta tersebut tetap berada pada kita.”

Wanita itu benar. Sekali lagi, aku mendapat pelajaran berharga.🙂

Kita semua tahu dunia ini mempunyai banyak dimensi. Dimensi satu berupa garis, dimensi dua berupa bidang, dimensi tiga berupa ruang, dimensi empat berupa waktu. Tiga dimensi pertama bisa dibuatkan batas, bisa juga tidak. Tapi dimensi keempat, waktu, tidak punya batas. Kita bahkan tidak bisa memanipulasinya, misalnya menghentikannya, memutar balik, memperbaiki yang sudah terjadi, mengulang kejadian sama persis, tidak bisa. Tapi uniknya kita bisa merancang waktu yang akan datang.

Mungkin ada yang berpikiran bahwa jika waktu tidak berbatas, lalu deadline itu apa?

Kemudian aku akan kembali bertanya, bukankah manusia yang menciptakan batas-batas itu? Dunia ini tidak terbatas, tapi manusia menyadari dirinya terbatas dan Tuhan pun mengerti bahwa manusia terbatas maka manusia menciptakan batas-batasnya dan Tuhan juga mengontrol kegiatan manusia dengan batas yang telah Dia tentukan.

Lagi-lagi, waktu adalah rahasia terbesar Tuhan.🙂

Tidak masalah jika kita hidup dalam waktu yang tidak terbatas, tapi Tuhan sudah merancang dalam periode tertentu kita harus kembali kepada-Nya. Maka kita mempunyai waktu yang batasnya “semu”. Kenapa semu? Karena kita tidak tahu, sangat tidak tahu kapan kita akan dipanggil menghadap-Nya. Setelah kita menghadap-Nya, kita akan memasuki ruang waktu yang baru dan waktu akan kembali bergulir dalam ketakhinggaannya.

Maka selagi hidup dalam waktu yang tidak terbatas ini, sebelum kita menemui “batas semu” yang diciptakan Tuhan, jangan sampai rezeki orang lain tertahan di kita. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kepercayaan Tuhan pada kita. Terlebih lagi, jangan sampai orang-orang di luar sana harus menahan duka atau susahnya menggerakkan roda hidup mereka hanya karena kita yang “kurang peka” terhadap hak mereka berupa rezeki yang ada pada kita.🙂

“Because this life has no limit. We learn something from everyone who passes through our lives. Some lessons are painful, some are painless  but  all are priceless.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s