mind self

Dekade


Dekade baru, dimulai

Tidak perlu menghidupkan kenangan yang sudah mati, biarkan saja menjadi abu di masa lalu

Tidak perlu melangkah dengan sepatu kusam itu, lepaskan saja, ganti dengan tapak yang baru

Tidak perlu menangisi kenangan-kenangan yang membuatmu terbelenggu, lupakan saja dan tutup rapat dengan indah

Tidak perlu meratapi kegagalan yang meremukkanmu, karena kamu akan terbang lebih tinggi dari itu

birthday

Apa rasanya sudah 20 tahun?
Bahagia.
Seolah ada gerbang dunia baru yang siap kamu masuki saat jam tepat 00:00. Kamu siap melepaskan pakaian masa remajamu. Kamu juga siap membersihkan serpihan kebiasaan masa kecilmu. Kamu akan melangkah lebih tegak, lebih mantap, dan lebih keren. :))

20 tahun, udah tua dong?
Well, ini agak menusuk sih. Haha. Memang benar, rasanya belum rela menerima kenyataan harus berkepala dua. Sementara teman-teman di sekitar masih ada yang usianya 17, 18, 19. Tapi apakah usia hanya sebatas angka? Nanti juga aku akan mengalami pergantian angka depan 1 digit setiap satu dekade.
Bagiku ini proses mendewasakan diri. Aku harus siap dengan angka 2 di depan usiaku, yang melambangkan kematangan hidup di dekade kedua!

Ceritakan makna kebahagiaan yang tadi kamu sebutkan dong. Kenapa bisa bahagia?

☆☆☆

Membicarakan usia dua dekade, aku sudah merasakan auranya sejak memasuki pertengahan 19 tahun. Ada hal-hal yang berubah di usia peralihan ini. Aku tidak lagi terlalu pilih-pilih teman karena semenjak aku merasa dewasa, aku harus bersikap baik pada semua orang dan berteman dengan semua orang. Persaingan juga lebih terasa lebih berat karena masing-masing orang di sekitarku sudah punya amunisi untuk meraih mimpinya. Tidak jarang, kami punya mimpi yang sama dan berusaha memperebutkannya. Aku juga merasa tolak ukur kebahagiaanku (juga orang-orang sekitarku) berubah banyak. Kebahagiaan yang seharusnya sederhana (memang sederhana) sering dibumbui hal lain yang lebih menyulitkan. Tolak ukur kebahagiaan sepuluh tahun lalu (berarti saat aku duduk di kelas 5 SD) jauh lebih sederhana. Sesederhana menghirup udara pagi sambil mengagumi matahari pagi yang hangat dan berjalan kaki ke sekolah bersama teman-teman. Sesederhana naik sepeda sepulang sekolah menyusuri jalan-jalan kampung yang baru saja dikenal. Sesederhana menikmati jajanan masa kecil berupa permen kacamata, mie gemez, undian benang serabut, permen cokelat koin emas, permen rokok, permen karet berhadiah tato, dan lain-lain. Sesederhana tertawa sepuasnya sambil berlari-lari di jalanan. Sesederhana itu.

image

Semakin dewasa, semakin jelas wajah dunia yang kulihat. Semakin banyak sifat orang yang aku kenal. Ketika dulu aku hanya tahu orang itu baik dan orang itu jahat, saat dewasa tidak. Boleh jadi seseorang baik tapi tampak jahat di mata orang lain, atau dia baik tapi sebenarnya menyakiti orang lain. Boleh jadi seseorang jahat tapi tampak baik di mata orang lain, atau dia jahat tapi punya alasan tersendiri yang memaksanya jadi jahat. Ada warna lain yang aku lihat, yaitu abu-abu. Tidak hitam, tidak juga putih.

Mungkin tolak ukur kebahagiaan juga dipengaruhi orang-orang di sekitar kita. Seringkali kita menjadikan kebahagiaan dan pencapaian orang lain sebagai takaran kebahagiaan. Padahal bahagia itu sederhana saja.

Sesederhana kamu mensyukuri semua yang kamu punya. Mensyukuri kamu masih merasakan denyut nadi dan degup jantung yang menjadikanmu hidup. Sesederhana kamu menyadari masih memiliki rasa cinta dan rasa sakit. Sesederhana kamu menyadari masih bisa tertawa dan menangis. Sesederhana kamu menyadari masih berkumpul dengan orang-orang tercinta. Sesederhana kamu menyadari do’a-do’amu pada-Nya kian hari kian bermakna. Sesederhana kamu menyadari emosi yang berbaur dalam hati dan kepalamu. Sesederhana kamu menyadari kamu semakin dewasa, semakin bijak menghadapi hidup.

Hidup ini adalah pilihan dan aku sudah melalui milyaran pilihan sampai tiba di sini. Bagiku hidup juga bukan hanya tentang memilih pilihan-pilihan yang menyenangkan hati, tetapi juga pilihan yang mungkin akan menyakitkan hati. Karena saat kita memilih sesuatu, kita melibatkan kesadaran kita dalam pilihan. Jika kesadaran dilibatkan, sekalipun pilihan itu menyakitkan, kita tetap memilih tanpa ada paksaan.

Mungkin memang ada pilihan yang aku sesali (selama ini), namun waktu tidak akan berbaik hati mengizinkan aku memperbaiki yang salah. Sebagai gantinya, Tuhan selalu memberiku waktu untuk memperbaiki masa depanku. Masa lalu memang tidak bisa diubah, karena tidak ada yang perlu diubah. Biarkan saja seperti itu. Sedangkan masa depan selalu bisa diperbaiki, sampai Tuhan memutuskan untuk menghentikan kisahku dari panggung kehidupan yang terlalu fana ini. Kehidupan tempat kamu bisa merasa bahagia yang sesungguhnya, tanpa perlu bermimpi. Kehidupan tempat kamu bisa merasa sedih, tanpa perlu ditangisi. Kehidupan tempat kamu bisa terjatuh, tertusuk, berdarah, tanpa ada pemeran pengganti. Kehidupan tempat kamu bisa bersyukur, tanpa kamu ragukan lagi.

Di dekade baru ini, aku ingin memaknai kebahagiaan lebih dalam lagi. Aku berdo’a untuk diriku sendiri, juga untuk semua orang yang berulang tahun hari ini.

Semoga Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita, yang disadari maupun tidak disadari.
Semoga Tuhan selalu menyayangi, memberi rezeki, kesehatan yang baik, dan melancarkan semua urusan kita.
Semoga Tuhan menjawab do’a-do’a yang kita panjatkan siang dan malam, dalam ibadah maupun bisikan hati kecil.
Semoga rencana-rencana hidup kita lekas terwujud, atau biarkan Tuhan yang membuat revisinya.

image

Selamat ulang tahun, selamat memulai hidup di dekade baru.


(Photos from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s