mind self

Movie Review “Battle of Surabaya”


image

Setelah melihat trailernya berkali-kali di internet, televisi, juga selingan iklan di bioskop, akhirnya saya berhasil menonton film Battle of Surabaya. Sebelum menulis review, mari simak dulu sinopsis filmnya.

Battle of Surabaya menceritakan kisah pertempuran Surabaya dari sudut pandang Musa, seorang tukang semir sepatu yang dipercaya sebagai kurir surat perjuangan. Meski Indonesia sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, namun sekutu dan Belanda datang kembali ke Surabaya karena belum menerima kemerdekaan Indonesia. Pejuang Surabaya, termasuk Musa dan temannya, Yumna, terbakar semangatnya untuk melawan sekutu dan Belanda.

“There is no glory in war”

Kalimat itu mengikuti judul film di menit-menit awal. Sesuai judul, pikiran saya membayangkan film yang penuh dengan adegan bela diri dan pertumpahan darah antara rakyat Surabaya dan sekutu. Ternyata tidak juga, film justru mengalir mengikuti cerita sejarah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah. Awal cerita dibuka dengan tragedi Bom Hiroshima di Jepang yang menyebabkan Jepang menyerah dan terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia. Selanjutnya, setiap peristiwa dikisahkan dengan petikan tanggal-tanggal kejadian dan penggambaran suasana yang dihidupkan dalam animasi. Dari segi visual, film ini sudah dikemas dengan sangat cantik dan apik. Set waktu pagi, siang, sore, malam benar-benar memvisualisasikan keindahan pemandangan rasa kampung yang dimiliki Indonesia. Kekurangannya terletak di pergerakan animasi yang patah-patah dan kurang halus. Selain itu alur cerita yang padat terkesan dipaksa mengikuti detail sejarah sehingga tidak ada klimaks perang yang sesungguhnya. Saya sarankan yang ingin menonton film ini membaca sekilas tentang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 agar lebih paham alur cerita.

Sebagai tambahan, film ini mengadaptasi sedikit bumbu dari serial animasi Avatar: The Legend of Aang dan Naruto. Ada beberapa detail yang membuat saya senyum-senyum sendiri. Misalnya topi caping Akatsuki, ninja, Kerajaan Api, Raja Api Sozin, dan Sharingan. Kalian harus menonton sendiri film ini untuk mengerti apa yang saya maksud.

Quote yang tertanam di pikiran saya yaitu:
“Aku hanya ingin makan kenyang, tidur nyenyak.”

Betapa orang-orang generasi perang hanya menginginkan hal sederhana untuk diwujudkan. Betapa kebahagiaan yang mereka impikan yaitu ketenangan hidup yang normal.

“Tidak ada kemenangan dalam perang. Jangan dendam. Berpihaklah pada nuranimu.”

Mengakhiri review, saya memberi nilai film ini 4/5. Terlepas dari kekurangannya, film ini menanamkan satu hal bahwa dendam tidak akan menyelesaikan permasalahan. Perang tidak membawa kemenangan, hanya menambah penderitaan dan membunuh banyak nyawa.

Selamat menonton dan semoga semakin mencintai produk negeri sendiri.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s