mind self

Panggung


image

Aroma kopi menguap ke udara sesaat setelah pelayan mengantarkannya ke mejaku. Malam ini akan menjadi malam yang larut, jadi kuputuskan memesan secangkir kopi lagi sebelum pulang. Kedai ini tidak bertambah sepi, justru semakin ramai seiring jam berdetak menuju tengah malam. Aku mengedarkan pandangan ke orang-orang yang baru datang. Mereka melepas mantel mereka dan tersenyum mencari meja-meja kosong. Musik semakin nyaring mengalun, mengetuk jendela-jendela kedai yang tertutup rapat menahan udara dingin dari luar. Suasana ini… aku mungkin bisa bersandar dan berpejam sebentar saja menikmatinya.

“Mai-san,” bisik seseorang yang menyadarkanku dari pejam. Aku membuka mata dan di hadapanku sudah ada seseorang yang menyunggingkan senyumnya. Dia seperti menunggu balasan sapaanku.

“Kaito-san,” aku menganggukkan kepala dan membalas senyum. Perlahan tanganku terasa dingin dan gemetar, siapa yang menyangka dia ada di sini?

Lagi, dia datang begitu saja tanpa aku tahu dari mana. Membawa senyum yang selalu dia berikan pada orang-orang yang ditemuinya. Aku tidak tahu, ini pertemuan keberapa saking seringnya kita bertemu secara tidak terduga.

“Kebetulan sekali. Kamu suka minum kopi sampai tengah malam juga?”
Aku membuka pembicaraan saat secangkir kopi miliknya datang bersama sepotong kue manis.
Dia menatapku, lalu tertawa kecil.

“Aku melihatmu dari jendela, jadi aku mampir.”

Tentu saja tidak ada yang kebetulan. Dan tentu saja dia bukan tipe penyendiri yang minum kopi di kedai malam-malam. Dia punya banyak teman yang siap menemaninya, tinggal dipanggil saja. Dia punya banyak orang untuk diajak pergi. Tentu saja dia berbeda denganku. Aku yang lebih senang menghabiskan waktu tanpa ditemani siapapun, bahkan teman dekat. Aku lebih suka menyendiri dan bergumul dengan pikiranku sambil menyesap kopi sampai larut. Aku yang menghindar dari kerumunan orang ramai dan mencari ketenanganku sendiri.

“Mai akan kuliah di Sapporo?” Dia bertanya sambil menyendok kue dan mengulumnya di mulut.

“Ya,” jawabku. “Kaito di Kyushu?”

Dia mengangguk.

Aneh, pertanyaan ini seharusnya tidak perlu dilemparkan satu sama lain. Kami sudah tahu jawaban masing-masing. Aku akan ke Sapporo, karena aku memang harus ke sana, itu ambisiku. Dia ke Kyushu setelah mengubah pikirannya untuk tidak kuliah di Osaka. Aku tidak tahu alasannya mengubah pikiran, tapi aku bersyukur kami masih bisa saling bertemu seperti ini… Saling bertemu setelah berminggu-minggu fokus dengan persiapan ujian masuk universitas.

“Semoga berhasil ya,” katanya mengulurkan tangan ingin menjabatku. Aku membalasnya kaku, dan mengiyakan dengan senyum simpul. Percakapan ini terasa kikuk sekali…

“Aku harap kita masih bisa saling bertemu seperti ini, walaupun nanti terpisah kota,” gumamku. Untuk mengurangi tegang, aku menyesap kopi dan menghindari tatapannya. “Tapi karena Kaito terbiasa sibuk… tidak apa-apa kalau tidak bertemu juga.”

Dia tertegun mendengarku. Ya, siapa sangka aku mengatakan kalimat barusan? Itu seperti harapan yang kulempar begitu saja ke langit-langit kedai dan terhambur di udara sebelum sempat mencapainya. Tentu saja dia akan sibuk. Selama kami satu sekolah pun, dia sibuk dengan belasan organisasi yang dia tekuni. Dia selalu dikelilingi teman-teman organisasinya. Dia murah senyum, pekerja keras, dan bijak menyikapi masalah. Karena itulah dia selalu mendapat tempat spesial di hati masing-masing orang. Mungkin memang tidak ada manusia yang sempurna, tapi dia terus beranjak mendekati posisi ideal itu.

image

Aku seperti melihatnya naik ke atas panggung dan dia disoraki ribuan orang. Aku hanya satu di antara sekian banyak manusia yang mengaguminya. Dia tinggi sekali, aku hanya bisa melambaikan tangan dari bawah, berharap dia akan menunduk dan menyambut tanganku. Tapi bukan hanya aku yang melambaikan tangan. Ada ribuan manusia lain yang juga melakukan hal yang sama. Berseru ke arahnya, bahkan berani memanggil namanya dengan nyaring. Dan dia tetap di sana, disinari lampu panggung yang menyilaukan. Aku harus bisa memilih, apakah ingin tetap mendongak menatapnya dari bawah sini atau pergi dari panggung miliknya dan membangun panggung milikku sendiri agar kelak mata kami sejajar untuk saling memandang. Tentu saja itu berarti aku harus meninggalkan panggungnya dan hanya mampir sesekali untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja.

“Aku pasti sibuk, tapi jika suatu saat aku melihatmu, aku akan menemui saat itu juga. Bahkan jika kamu yang lebih dulu melihatku, tapi tidak menyapa.”

Kalimatnya barusan terdengar tegas di telingaku. Mengalahkan alunan musik yang bergema di dalam kedai. “Apa aku secuek itu sampai tidak menyapamu?”

“Tidak… tapi aku merasa saat kamu melihatku berkumpul dengan yang lain, kamu tidak menyapaku sama sekali.”

Aku menunduk. “Aku tidak ingin mengganggu.”

“Sapaan itu bukan gangguan.” Dia tertawa. “Tapi kalau begitu, biar aku yang mendatangimu sendirian.”

Aku mengangkat kepalaku dan menyadari pandangan kami bertemu. Aku menyadari dia spesial di hati setiap orang, termasuk di hatiku. Namun dia terlalu sulit ditebak, hatinya dalam sekali meski aku berusaha tenggelam di sana. Aku yakin, layaknya manusia normal, dia pasti menyimpan satu orang yang juga spesial dalam hatinya. Siapapun itu, orang itu adalah orang beruntung karena sudah memenangkan dia.
Aku tidak tahu kapan dia akan mengutarakan isi hatinya, tapi selama aku menunggu… aku bisa saja menemukan orang lain yang juga sedang membangun panggung yang sama denganku. Atau aku bisa saja menemukan panggung-panggung lain yang lebih menarik untuk kusinggahi.

Bisa saja.

Sebelum aku memutuskan pilihanku, semoga dia datang sendiri di saat yang tepat. Menarikku naik ke atas panggung atau saling menyapa dari panggung kami masing-masing.
Aku masih menyimpan namanya untuk aku kagumi.

Jam kedai berdentang dua belas kali tanda kedai akan segera tutup. Aku sudah menghabiskan kopi sejak dua belas menit yang lalu. Dia juga sudah selesai berkutat dengan kopi dan kue manisnya. Kami berdua mengobrol seperti biasa, tertawa, dan mengambil mantel masing-masing. Setelah kami membuka pintu kedai, aku sadar kami akan melangkah terpisah. Agak menyedihkan menyadari itu, tapi aku tidak bisa menghindarinya.

Tepat saat pintu kedai dibuka, lonceng kedai berdering, dan kami menapaki tanah di bawah kaki kami, aku dan dia berpisah dengan sepotong salam sampai jumpa.

______________________________
Photo from We Heart It.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s