mind self

Untuk Sebuah Tanya


horizon

Kau tahu kenapa langit dan bumi terpisah?
Padahal mereka di lengkungan yang sama. Mereka hanya dipisahkan udara. Tapi tetap saja, langit hanya bisa menjulurkan jari-jarinya di cakrawala untuk menyentuh wajah bumi.

Jika mereka bersatu, bisa saja. Mereka mungkin akan bahagia. Tapi aku dan kamu, tidak akan pernah ada.

Jika mereka bersatu, bisa saja. Mereka mungkin akan saling mendekap. Tapi aku dan kamu, tidak akan bisa melihat bintang yang sama.

Jika mereka bersatu, bisa saja. Mereka mungkin lama menampung rindu. Tapi aku dan kamu, kita tidak akan pernah menyapa.

Untuk sebuah tanya, aku lebih memilih bumi terpisah dengan langit. Biarkan mereka saling tatap dalam udara hampa. Biarkan bumi menyapa langit dengan puncak gunung menjulang di angkasa. Biarkan langit menyapa bumi dengan rintik hujan yang bukan air mata.

Kita yang berada di naungan langit dan bumi sudah menemukan benang merah. Kita bertemu. Kenal. Dekat. Lalu rindu.
Lalu… ingin bertemu?
Ingin mendengar?
Ingin bicara?
Ingin melihat?
Ingin menatap?

Terlalu klasik.
Kita tidak perlu seperti itu.

Kau pernah melihat terang dan gelap berdampingan?
Seperti berada di sebuah ruangan tanpa cahaya dan hanya memegang sebatang lilin yang menyala.
Seberapapun banyaknya lilin kau nyalakan, gelap akan tetap tersisa. Bahkan jika lampu mulai menyala, bayangan masih tetap ada. Gelap akan selalu berdampingan dengan terang.
Itulah kenapa kau tidak bisa memaksa.

Kau tidak bisa memaksa bayangan untuk putih. Dia akan tetap hitam.

Kau tidak bisa memaksa jelaga menjadi kapas. Dia akan tetap hitam.

Kau tidak bisa memaksa gelap jadi terang.

Kau tidak bisa memaksa.

Memaksakan sebuah tanya harus dijawab, tanpa tahu apa pertanyaannya.

Memaksakan sebuah pertemuan karena kau lama menunggu, tanpa tahu kapan kau berjanji bertemu.

Memaksakan penjelasan dan kepastian, tanpa tahu mengapa harus dilakukan.

Jangan memaksakan

Tetaplah terang seperti bintang
Tetaplah bersinar seperti matahari
Tetaplah indah seperti pelangi

Dan tetaplah menjadi kamu, tanpa paksaan

_____________________

(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s