mind self

Sembuh


Langit kelabu, tak lama menunggu rinai itu jatuh juga menghujam tubuh bumi yang kehausan karena kering dalam kemarau panjang. Hari ini mungkin hari hujan pertama yang kutemui di musim panas, di bulan Agustus yang seharusnya menghidangkan matahari seharian di atas kepala. Tidak perlu menunggu lama juga, orang-orang berlarian mencari teduh, begitu rapuh dan sengaja (atau tidak sengaja) menyenggol manusia-manusia lain yang berbondong lari dari butir-butir air dari langit. Entahlah, padahal hujan tidak melukai. Kamu hanya akan basah. Kamu hanya akan dingin. Kamu tidak akan merasa sakit. Bukankah justru hujan yang akan membasuh lukamu?

***

image

Kita berdua duduk berdampingan di sebuah bangku kayu di tengah taman yang ramai. Lebih dari ramai, taman ini lebih pantas disebut berisik. Suara anak-anak yang tertawa di sana-sini, menangis, memanggil ibunya, bersorak, berteriak, atau sekedar bergumam terdengar berbaur sempurna. Wajah-wajah bahagia tampak berlalu-lalang di hadapan kita, saling melempar senyum, sesekali ke arahku, sesekali ke arahmu. Beberapa juga ada yang memandang aneh pada kita berdua yang duduk terpisah jarak tiga puluh sentimeter dan diam saja memandangi mereka semua.
Benar, kita berdua memang hanya diam saja. Tapi lebih daripada diam, aku merasa sakit. Sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan lidahku sendiri. Sakit yang menghujam dadaku ribuan kali, tapi tidak berdarah. Aku yakin ada luka yang ditimbulkan, tapi tidak ada bekas fisik. Hanya ada perasaan sesak karena tidak bisa mengobatinya, atau harus kukatakan… aku tidak tahu cara mengobatinya. Di tengah mereka yang berseru ramai, aku justru meraung dalam hati. Mengutuk diri sendiri yang tidak bisa membuka pembicaraan lebih dulu. Setidaknya aku bisa mencairkan suasana yang kaku ini, bukan? Tapi lidahku tetap saja kelu. Mulutku terasa kering, aku tidak ingin berkata-kata. Aku hanya ingin diam saja sekarang.

Masih sakit?

Kamu berdecak di sampingku, membuka suara setelah satu jam lamanya kita berdua terdiam tak berdaya di bangku besar ini. Aku mendesis, apa-apaan pertanyaan barusan? Tentu saja masih sakit. Bagaimana mungkin luka yang menyayatku begitu dalam sampai meretakkan tulang-tulang rusukku bisa sembuh begitu saja? Seharusnya kamu tidak membuka percakapan seperti itu. Bergeming, aku memaksakan diri mengangguk. Anggukan yang lemah, bahkan terlalu lemah untuk dilihat sebagai kepala yang bergerak. Tapi sepertinya kamu melihatnya dengan baik.

Kamu memaksakan diri untuk mencintai yang salah…” Kamu membuka suara yang tiba-tiba serak. Aku semakin pilu.

Tidak ada yang salah dalam mencintaimu.” Aku menyahut, menahan sesak. Kali ini benar-benar sesak.

Mungkin benar kata-kata penghibur yang kudengar dari banyak orang, jika bersama hanya membuat sakit, buat apa dipertahankan? Cinta seharusnya membahagiakan, bukan melukai. Cinta seharusnya membuatmu tersenyum, bukan menjatuhkan. Cinta seharusnya dihiasi senyuman, bukan isak dan tangisan. Tapi lagi-lagi, bagiku tidak ada yang salah dalam mencintaimu. Aku juga terus memaksa diriku untuk mempertahankan kamu, karena aku percaya cinta akan menjadi penyembuh yang utama. Kamu adalah satu-satunya orang yang mengisi pikiran dan hatiku sekarang. Bagaimana mungkin tiba-tiba kamu memilih ingin mengakhiri semua yang sudah kita bangun bersama-sama tanpa alasan? Bahkan saat aku bertanya apa alasanmu, kamu hanya terdiam dan mengatakan aku terlalu baik untuk kamu cintai. Klise sekali, aku benci jawaban itu. Jika aku memang baik, kenapa kamu rela melepaskan?

Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi. Aku mohon jangan minta aku untuk melanjutkannya.

Kamu bahkan tidak menjelaskan alasannya.” Aku mengepalkan tanganku, memukul bangku kayu ini dan menarik nafas sambil menengadah ke langit. “Apakah terlalu baik adalah hal yang buruk bagimu?

Aku hampir kehilangan akal sehatku. Dadaku terlalu sakit untuk kutahan sendirian. Sebagai gantinya, mataku mulai berkaca-kaca. Tuhan… konyol sekali diriku sekarang. Aku menangis untuk orang yang tidak mencintaiku. Aku meleburkan hatiku untuk disatukan dengan miliknya, tapi sia-sia saja. Aku sedang memperjuangkannya, dia yang namanya kusebut dalam do’a-do’aku pada-Mu. Tapi perjuangan ini hanya sampai di sini saja, dia bahkan tidak memperjuangkan aku… Sakit sekali.
Lemah sekali jika aku menangis. Seperti pengemis yang meminta belas kasihan darimu, aku terisak sambil mencengkeram dadaku sendiri. Tidak… ini seharusnya tidak terjadi padaku. Bagaimana mungkin aku sanggup menguraikan kenangan dan meninggalkannya di masa lalu? Bagaimana mungkin aku sanggup menguraikan semua memoriku tentangmu agar aku tidak membawanya hingga ke masa depan kelak? Tubuhku gemetar, isakanku semakin keras. Aku menangis dan aku menyadari itu. Lemah sekali aku ini…

image

Pulanglah.” Aku bergumam kering. “Pulang sebelum aku membencimu.”

Kamu tersentak di sampingku, menatapku sayu. Kita terdiam lagi selama tiga puluh menit. Kita terdiam lagi sampai taman menjadi sepi karena satu per satu orang pergi. Senja mulai turun dan kusadari gerimis menyambut matahari yang hampir terbenam di cakrawala. Di bawah kakiku, bayang-bayang kita terlihat panjang dan berpisah. Mungkin memang lebih baik begini. Kita berdua berpisah tanpa aku tahu alasanmu memintaku mengakhiri. Mungkin bagimu, alasan yang kamu utarakan hanya akan menambah luka di hatiku, atau di hatimu. Mungkin dengan berpisah tanpa alasan aku bisa lebih tenang karena tidak terbayang dirimu dan semua kepalsuanmu.
Di tengah taman yang semakin sepi, kamu beranjak berdiri dan menutup kepalamu dengan jaket. Kamu bahkan tidak memintaku ikut berdiri. Aku menunduk menatap tanah yang basah di bawah kakiku. Bayang-bayang kita berdua sudah hilang dalam kelabu. Senja yang muram… kenapa harus diakhiri seperti ini? Aku tahu, mungkin kamu bingung harus melakukan apa di saat seperti ini. Kamu ingin memayungiku agar tidak kehujanan tapi kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Kamu ingin mengantarku pulang tapi hubungan kita sudah retak sama sekali.

Terima kasih,” gumamku. Masih dengan mata yang merah berkaca-kaca, aku menatap tepat ke matamu. Aku tidak menemukan penyesalan atau kesedihan di sana. Padahal kusadari, mataku kosong dan hampa.
Ayo kita akhiri ini baik-baik, layaknya kita mengawali ini baik-baik. Apapun alasanmu mengakhiri, aku sudah memaafkan. Tidak perlu mengantarku pulang, aku tahu jalan pulang tanpa harus ditemani. Semoga hujan mendinginkan kepala kita masing-masing. Ini mungkin percakapan terakhir, aku harap sebelum pulang, kita saling mendo’akan kebahagiaan untuk yang terakhir kalinya.
Aku mengusap wajahku, mengulaskan senyum tepat ke wajahmu. Tentu saja aku tidak boleh meminta belas kasihan. Toh, kamu tidak akan membatalkan perpisahan ini. Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Justru dengan pertemuan kita, aku semakin percaya bahwa Tuhan mengatur kita dipertemukan dengan orang yang salah sebelum dipertemukan dengan orang yang benar. Tuhan menghadiahkan kamu sebagai tempatku belajar. Tuhan menghadiahkan kamu sebagai orang yang mewarnai sebagian hidupku.
Aku menarik kerah mantelku dan berjalan pergi menyusuri gerimis. Meninggalkanmu sendirian. Entahlah, siapa yang tahu kamu sendirian atau tidak? Bisa saja sudah ada yang mengisi relung hatimu sehingga kamu memintaku untuk keluar dari sana. Mungkin saja, bukan?

***

image

Langit kelabu, tak lama menunggu rinai itu jatuh juga menghujam tubuh bumi yang kehausan karena kering dalam kemarau panjang. Hari ini mungkin hari hujan pertama yang kutemui di musim panas, di bulan Agustus yang seharusnya menghidangkan matahari seharian di atas kepala. Tidak perlu menunggu lama juga, orang-orang berlarian mencari teduh, begitu rapuh dan sengaja (atau tidak sengaja) menyenggol manusia-manusia lain yang berbondong lari dari butir-butir air dari langit. Entahlah, padahal hujan tidak melukai. Kamu hanya akan basah. Kamu hanya akan dingin. Kamu tidak akan merasa sakit. Bukankah justru hujan yang akan membasuh lukamu?
Di tengah-tengah kerumunan, aku menemukanmu berpayung dengan sosok lain di sampingmu. Kalian tersenyum satu sama lain, berjalan melewati lautan manusia yang berlarian mencari tempat berteduh, berjalan ke arahku. Mata kita bertemu. Bedanya, aku tidak terkejut saat melihatmu. Aku mengulaskan senyum terbaikku dan menghujamkannya tepat ke wajahmu.

Selamat siang,” ujarmu kaku.

Di tengah lautan manusia yang berlarian mencari teduh, aku menganggukkan kepalaku dan melangkah melewatimu. Tidak ada sakit. Tidak ada luka. Tidak ada penantian. Di bawah hujan, aku menemukan teduh yang menyembuhkan semuanya.


Photo from We Heart It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s