mind self

Memaknai Kebaikan


rainy street

Siang ini hujan datang bersama angin, menampar-nampar pintu dan jendela. Aku tertegun memandangi kelabu yang turun mendesak matahari. Saat aku berangkat tadi pagi, langit masih cerah seperti biasa. Kulirik jam di atas kasir, masih jam satu. Ini bulan Juli, seharusnya panas terik, seharusnya debu-debu beterbangan di udara dan hawa panas membakar aspal. Tapi mungkin hujan ingin bertamu, mana mungkin bumi menolak?

Semalam aku dihubungi teman lama yang meminta bertemu di kafe buku ini jam satu. Sepertinya dia sedikit terlambat karena hujan deras di luar seperti tidak manusiawi. Daun-daun pohon yang masih hijau beterbangan dan menempel di kaca jendela, sebagian lagi menghambur di jalanan dibawa paksa arus yang mengalir ke parit. Tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang, hanya deru redam yang terdengar dari dalam sini. Di toko seberang ada beberapa orang berteduh sambil menutupkan mantel ke sekujur tubuh mereka. Sementara yang tidak membawa mantel memeluk diri sendiri sambil menggigil.

Bel kafe berbunyi saat pintu terbuka dan membawa serpih air yang dengan ganas mendesak masuk. Penjaga kafe langsung menutup pintu dan mengepel lantai sambil sesekali menggelengkan kepala memikirkan hujan deras hari ini.

Ai-chan, maaf aku terlambat.” Temanku berdiri, basah kuyup, bahkan rambutnya seperti baru selesai keramas.

Aku menggeleng sambil tersenyum, mengisyaratkan “tidak apa-apa“, lalu menuntunnya ke salah satu meja sambil membantunya melepas mantel dan memberikannya pada pelayan. Kami memesan dua cangkir teh dan mulai membuka percakapan dengan saling menanyakan kabar. Sesekali dia bertanya perubahan apa yang terjadi pada dirinya, apakah dia tampak lebih gemuk, dan aku lebih banyak mendengar ceritanya. Kami tidak bertemu selama dua tahun dan libur semester kali ini aku bisa bertemu dengannya. Ini pertemuan yang menyenangkan.

Kenapa kamu memeriksa layar ponselmu terus?” Aku bertanya setelah merasa kurang nyaman melihatnya membuka-tutup cover ponselnya berulang kali. Seperti ada hal yang dia tunggu, dia cemaskan, tapi entah penting atau tidak.

Aku menunggunya membalas pesanku.” Dia bergumam, sambil melirik ke layar ponselnya yang kini dibiarkan terbuka. “Dia yang baru saja aku ceritakan padamu…”

Aku memutar bola mataku dan mengibaskan tanganku. Dia baru saja bercerita tentang seorang lelaki yang (dia bilang) sudah membawa pergi separuh hatinya. Lelaki yang selama ini begitu baik padanya dan memberinya seluruh perhatian yang tidak dia duga. Lelaki itu memberinya bunga mawar di tahun pertamanya masuk kuliah, mengantarnya pulang setelah kegiatan malam, menanyakan kabar setiap hari, mengajak makan bersama, dan mungkin masih banyak hal lain yang tidak dia ceritakan karena terlalu banyak. Aku mendengarkan dengan seksama sambil tersenyum menahan tawa, tidak biasanya kulihat wajahnya memerah seperti hari ini saat menceritakan seseorang. Tapi sejujurnya sikapnya yang membuka tutup cover ponselnya berulang kali karena menunggu balasan pesan dari orang yang baru saja dia ceritakan… oh yang benar saja, cepat atau lambat dia pasti akan membaca pesanmu dan membalasnya.

Dulu dia membalas pesan dengan cepat…

Aku beringsut sedikit dari duduk dan melihat ekspresinya berubah muram. “Memangnya sekarang dia membalas lebih lama dari biasanya?

Temanku mengangguk, masih dengan tatapan muram pada layar ponselnya. “Sekarang aku merasa dia menjauh. Perhatian yang dulu dia berikan padaku sudah teralihkan untuk orang lain. Kami jarang bertemu dan hanya mengobrol sesekali. Bagaimana ini? Aku tidak bisa menyikapi ini…

Aku menghembuskan nafas dan menunduk melihat cangkir teh yang setengahnya sudah kuminum. Ternyata semua yang dia ceritakan adalah kisahnya tahun lalu, bukan kisahnya sekarang. Temanku sepertinya masih berharap pada lelaki itu untuk kembali baik padanya seperti dulu lelaki itu memperlakukannya.

Apa yang kamu harapkan dari dia sekarang?” tanyaku dingin. Aku tidak tahu pertanyaan itu menohok atau tidak, tapi kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.

Aku ingin dia baik dan perhatian padaku seperti dulu…

Aku tersenyum simpul. Sudah kuduga jawabannya seperti itu.

Aku punya pandangan lain, Fuji-chan. Menurutku setiap lelaki memang sepantasnya bersikap baik pada perempuan. Dia sering mengajakmu bicara boleh jadi karena kalian memang punya kesukaan yang sama. Dia sering membayarkan karcis kereta, membayarkan ongkos taksi, membayarkan makanan, membayarkan tiket bioskop, karena dia merasa malu kalau sampai perempuan harus membayar sendiri, padahal ada dia sebagai lelaki yang bisa membayar.
Dia merasa dirinya lelaki dan di sampingnya ada seorang perempuan. Ada keinginan untuk menunjukkan pada perempuan itu bahwa “kamu tidak perlu bayar, aku saja”.

Lalu tentang bunga mawar dan mengantarmu pulang malam… itu wajar saja, bukan? Lelaki bebas melakukan itu pada perempuan yang dia mau. Maksudku, dia bebas melakukan kebaikan pada perempuan tertentu, karena tugas lelaki adalah memilih. Sementara kita, perempuan, kita menunggu untuk dipilih. Maka jika tiba-tiba lelaki tidak lagi memberikan perhatian seperti dulu… mungkin kamu bukan lagi orang yang dia pilih. Walaupun dulu dia pikir kamu adalah pilihan terbaiknya.
Mungkin itu yang dipikirkan lelaki.

Aku mencengkeram cangkirku dan melihat riak pada teh karena getaran tanganku. Aku tidak tahu harus bicara apa, aku tidak tahu isi pikiran lelaki. Tapi jika perempuan tidak mengendalikan hatinya dari harapan, dia akan selamanya menimbun harapan pada lelaki yang belum tentu membalas perasaannya. Karena tidak ada yang pasti di dunia ini, selagi lelaki itu belum jadi milikmu dalam ikrar tertentu… kupikir perempuan tidak bisa mempercayakan perasaan dan hatinya pada siapapun.

Kenapa lelaki bisa bersikap begitu baik pada satu orang?

Aku mengeryitkan dahi. Sambil memainkan sendok di tangan, aku menjawab setenang mungkin. “Jika lelaki begitu baik pada satu perempuan, dia bisa jadi sedang memperjuangkan perempuan itu.
Lalu saat dia berubah menjadi tidak se-perhatian dulu… dia merasa perempuan itu tidak perlu lagi dia perjuangkan.
Jika separuh hatimu dengan mudah kamu serahkan pada orang lain tanpa ikrar apapun di antara kalian… jangan menyesal dan bersedih jika suatu saat orang itu pergi dari hidupmu. Orang itu mungkin saja tetap membawa pergi separuh hatimu atau mengembalikannya tapi dalam keadaan rusak. Kamu akan membutuhkan sepotong hati yang baru. Tentu saja menemukan sepotong yang baru tidak mudah, jadi jaga baik-baik saja hati milikmu itu.

Entah apa yang temanku pikirkan setelah mendengar kalimatku, dia terdiam beberapa saat dan menutup cover ponselnya.

Apa aku salah memaknai kebaikannya?” Temanku menatapku dan tersenyum datar.

Aku menolehkan kepala ke jendela yang basah berembun. “Tidak salah, kamu hanya memasukkan perasaanmu saat dia melakukan kebaikan. Seolah yang dia lakukan memang benar untukmu, satu-satunya. Padahal siapa yang tahu, dia melakukan itu tanpa melibatkan perasaannya sama sekali. Siapa tahu dia melakukannya karena dia ingin tampak baik memperlakukanmu sebagai perempuan. Jangan terlalu melibatkan hati pada setiap inci kebaikan orang lain, apalagi lawan jenismu.
Jangan terlalu senang jika ada lelaki yang baik padamu. Dia mungkin melakukannya pada semua orang.”

Apa Ai pernah bertemu lelaki seperti itu?”  Temanku menepuk punggung tanganku dan kurasakan tangannya gemetar.

Tentu saja aku pernah bertemu lelaki seperti itu…

Aku merasakan tenggorokanku kering saat mengucapkan jawaban barusan. Tanpa kusadari, bibirku mengulaskan senyum dan telunjukku bergerak menuliskan inisial seseorang di atas meja. Temanku tidak melihat gerakan jariku tapi menyadari senyumanku berbeda dari sebelumnya.

Kamu pandai mengendalikan hatimu…” Temanku tertawa kecil. Lalu percakapan kami pun beralih ke topik lain, yaitu tentang kota tempat kami kuliah. Entah, aku tidak tahu apakah aku memang pandai mengendalikan hati atau aku masih belajar untuk mengendalikan hati yang masih liar ini.

Langit menyisakan gerimis saat kami pulang. Temanku memilih naik bus, jadi dia langsung menghilang dari pandanganku sesaat setelah bus menghampiri halte tempat kami berteduh. Rumahku tidak jauh dari persimpangan dekat halte, jadi aku bisa berjalan kaki pulang. Aku sudah melangkahkan kaki dan membantangkan payung saat ponselku tiba-tiba bergetar. Ada satu pesan masuk muncul sebagai pop-up di layar ponselku.

Hati-hati ya di jalan.

Aku mengeryitkan kening melihat nama seseorang dan isi pesan yang dikirimkannya padaku. Seperti menebak kebingunganku, muncul satu pesan lagi di layar.

Lihat arah jam dua.

Aku mengalihkan pandangan ke seberang jalan, arah jam dua. Pandanganku diburamkan oleh tirai gerimis dan kendaraan yang mulai ramai lalu-lalang. Di sana aku melihat sosoknya… sosok yang inisial namanya kutulis di atas meja dengan telunjukku. Dia memakai mantel biru-kehijauan dan sedang tersenyum ke arah layar ponsel.

Apa kamu sedang memperjuangkan seseorang?” Aku bertanya. Sesaat setelah aku selesai mengetik, aku menoleh ke seberang. Dia juga sedang melihat ke arahku. Kami terdiam sejenak dan tertawa bersamaan.

Kurasa kamu tidak perlu menanyakan itu pada lelaki.

Aku melambaikan tanganku ke seberang dan menghilang di balik kerumunan manusia di persimpangan jalan. Tidak, dia tidak perlu mengantarku pulang. Aku bahkan cemas bila dia bersikap terlalu baik padaku. Aku takut menyalahartikan kebaikan yang dia lakukan.

Sekarang sudah hampir jam enam, aku harus segera sampai di rumah.

Apapun perasaan yang melandaku atau melandamu sekarang, kita tidak perlu melibatkan hati kita terlalu jauh. Bagi perempuan, lelaki sulit ditebak. Sebaliknya bagi lelaki, wanita sulit ditebak. Lagi-lagi, urusan perasaan tidak akan menyakiti asalkan kita tidak melibatkan hati terlalu jauh.

Yang sudah diikat ikrar saja bisa berpisah, apalagi yang tidak terikat…


(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s