mind self

Kriteria


image

Apa kabar hati?
Ya, mungkin seringkali kabarnya berubah. Tiba-tiba bahagia lalu berujung duka. Tiba-tiba berduka lalu berujung gembira. Siapa yang tahu? Toh, urusan ini, manusia yang punya hati pun sering tidak memahami hatinya sendiri, apalagi untuk memahami hati orang lain. Bisa dibilang… hal terdalam di dunia ini yang mengalahkan palung terdalam adalah hati manusia. Ibarat labirin berkelok, kamu selalu bisa menyimpan rahasia-rahasia yang hanya diketahui olehmu dan Tuhan, di dalam lekuk-lekuknya yang tersembunyi dari penglihatan orang lain.

Jam tanganku baru saja rusak dan untuk memperbaikinya dibutuhkan waktu inap sekitar satu minggu. Tidak bisa menerima kenyataan itu, aku memutuskan untuk membeli saja jam tangan baru. Lantas berkeliling dari satu toko ke toko lain. Hasilnya tentu saja, di setiap toko pasti ada minimal satu model jam tangan yang paling menarik menurutku, tapi belum tentu terbaik untuk kubeli. Setelahnya, aku dihadapkan pada dua pilihan; membeli jam tangan itu atau mencari jam tangan di toko lain yang siapa tahu lebih menarik untuk dibeli. Seringkali inilah pikiran yang agak mengganggu. Bagaimana kalau ternyata aku sudah lelah mencari jam tangan terbaik, lalu aku membeli jam tangan yang kurang sreg di hati hanya karena aku malas mencari? Kemudian saat sudah membeli, aku melihat jam tangan di toko lain yang lebih bagus, lebih murah, dan lebih memikat daripada yang sudah kubeli…

Bagaimana aku harus mengikhlaskan itu?

Terdengar sepele, tapi hal ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Misalnya dalam pencarian pasangan hidup. Kita pasti punya kriteria terbaik menurut kita, kriteria ideal yang selalu kita pegang teguh, lantas mengigitnya kuat-kuat sebagai pedoman. Namun seiring perjalanan hidup, saat kita mencari-cari pasangan terbaik… tapi tidak langsung ketemu. Kita lalu membuat revisi dari kriteria ideal yang kita cari. Boleh jadi kriteria itu kita turunkan, atau kita tambah-kurangi. Kita jadi tahu dengan kapasitas yang kita miliki, kita pantas mendapatkan jodoh yang seperti apa. Sayangnya bila terlalu jenuh mencari, ada beberapa orang yang menjatuhkan pilihannya bukan di pilihan idealnya. Padahal konsekuensi dari rasa cinta adalah bersama dengan orang yang dicintai. Walau tentu saja kita semua tahu, kebersamaan tanpa cinta akan terasa hampa, dan cinta tanpa kebersamaan akan sia-sia saja.

Lalu bagaimana sebaiknya kriteria pasangan seharusnya? Jawabannya kadang tidak bisa dituliskan dengan kalimat, karena hati jauh lebih tajam memaknainya, hati jauh lebih peka memahaminya, dan hati jauh lebih bijak mencari jalan keluarnya. Tentunya semua tidak lepas dari peran Tuhan sebagai pemilik hati. Hati yang mencintai dan hati yang dicintai, dibolak-balik oleh Dia yang memiliki. Jika kita merasa sulit menentukan kriteria, bolehlah kita mendiskusikan kriteria yang kita punya dengan Tuhan. Maka bila ternyata kriteria kita tidak pas, Tuhan bisa membantu kita memperbaiki dan menggantikan dengan yang lebih baik sebagai hadiah terindah dari-Nya.

Semoga.🙂


Photo from We Heart It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s