mind self

Dear Otak…


sunset

Dear Otak,

Apa kabarmu hari ini?
Sudahkah kamu berdamai dengan semua pelajaran-pelajaran kehidupan itu?
Materi yang tidak terkira banyaknya, tapi besar manfaatnya.
Dengan semua catatan yang aku titipkan padamu, agar kamu menyimpannya dalam lekuk-lekukmu. Jadi jika suatu hari aku membutuhkannya, aku bisa memintamu untuk memberikannya lagi padaku.

Sudahkah kamu berdamai dengan kenangan masa pahitku? Yang seringkali membuatku menangis setiap kali kamu mengingatkanku, padahal aku tidak pernah meminta.

Sudahkah kamu berdamai dengan hati?
Seringkali kalian tidak satu jalan. Kuatnya logikamu sering berperang dengan kuatnya perasaan hati. Padahal kalian sama-sama dalam tubuhku, kan? Kalian sama-sama milikku. Kalian tidak seharusnya berperang.

Atau…
kau bahkan sudah berdamai dengan hati tanpa aku tahu? Kalian sudah saling bekerja sama menciptakan momen yang disebut orang “Virus Merah Jambu”.
Membuat mataku seolah melihat yang indah setiap kali memandangnya.
Membuat jantungku berdebar setiap kali melihatnya.
Membuat aku tersenyum setiap kali bisa mengobrol dengannya.
Membuat aku selalu menunggu untuk bisa bertemu dengannya.

Dear otak, bahkan kamu menyimpan tentang dia di banyak sudut memori milikmu. Sehingga aku semakin sering mengingatnya. Apakah kau bekerja sama dengan hati untuk menciptakan sihir ini? Sehingga aku terlalu larut dalam situasi ini?

Kalau kamu bertanya siapa “dia” yang kumaksud… Kamu tidak perlu bertanya. Kamu kenal orang itu. Ya, orang itu. Yang baru saja aku temui 730 hari, 1051200 menit yang lalu. Waktu yang singkat, ya? Bahkan belum sampai 1000 hari, 2000000 menit.

Otakku, aku takut kamu semakin memaksaku mengingatnya. Bagaimana kalau nanti kekuatan logikamu hilang dan kekuatan perasaan hati semakin kuat? Karena walau kamu berdamai dengan hati, tapi kamu tidak gunakan logika sebagai perisaimu. Ingat, otakku. Logika itu harus tetap kamu gunakan setiap waktu.
Jangan sampai hati yang berbalik menyerangmu. Jangan sampai ada perang antara logika dan perasaan.

Otakku, bolehkah aku minta satu hal? Tetaplah menyimpan hal-hal yang baik untukku dan masukkan semua catatan pahitku dalam recycle bin milikmu. Kalau kamu bertanya, kenapa tidak dibuang? Itu karena catatan pahit akan dibutuhkan untuk mengambil pelajaran baru dari cerita di masa lalu.
Tetaplah berdamai dengan hati dan jangan lupa pakai logika sebagai perisaimu.
Aku mungkin memang suka disihir dengan “Virus Merah Jambu” ini, tapi aku kasihan padamu, otakku. Aku tidak mau kamu mengingat hal yang tidak pasti. Aku tidak mau kamu menyimpan orang yang belum sepenuhnya milikku dan lekukan memorimu. Aku tidak mau kekuatan logikamu melemah karena semua itu.

Cinta? Ya, otakku. Aku tau benda itu. Tapi itu urusan hati. Biar dia saja yang mengurus tentang benda itu. Asal jangan kamu.
Tugasmu adalah mengatur semua kerja dan koordinasi dalam tubuhku ini. Bahkan kamu juga yang punya wewenang untuk mengatur kerja hati. Jadi jangan sampai malah kamu yang diatur oleh hati.🙂

Otakku, mungkin kamu lelah ya mendengarnya. Aku juga sama. Tapi ini aku lakukan demi kamu. Aku mau kamu tetap menjadi organ tubuhku yang terpenting. Aku mau kamu tetap tegas menjadi pemimpin. Pemimpin apa? Ya, pemimpin dari semua organ tubuhku yang lain.

Ok, otakku. Menurutku sudah cukup ceritanya. Kita sambung lagi lain hari, ya.

______________________

(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s