profesi

Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, Jurusan yang Mengabdi pada Masyarakat


RIL

Tulisan ini hadir untuk menjawab pertanyaan tentang salah satu jurusan baru di Institut Teknologi Bandung, yaitu Rekayasa Infrastruktur Lingkungan dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. RIL berdiri pada tahun 2013 dan menerima mahasiswa jurusan pada tahun 2014. Latar belakang dibentuknya jurusan ini berawal dari kegelisahan karena bidang infrastruktur lingkungan saat ini kurang mendapat dukungan dalam pengembangannya karena kurang sumber daya manusia yang ingin bekerja di sektor tersebut. Lalu muncul pertanyaan, kenapa gelisah?

MDGs

189 negara PBB bersepakat dengan dijalankannya MDGs (Millenium Development Goals) pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai tahun 2015. Targetnya adalah tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Salah satu hal yang menjadi tujuan MDGs adalah memastikan kelestarian lingkungan hidup, yang meliputi tiga hal:

  1. Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan.
  2. Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.
  3. Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh.

100 0 100

Kementerian Pekerjaan Umum-Perumahan Rakyat mencanangkan program 100-0-100 yang akan dicapai tahun 2019. Program 100-0-100 merupakan solusi untuk menjawab tantangan kebutuhan masyarakat tentang akses air bersih, ketersediaan rumah layak huni, dan lingkungan tempat tinggal yang bersih dan sehat. Program 100-0-100 merujuk pada target 100% kemudahan akses air bersih, 0% kawasan kumuh, dan 100% sanitasi lingkungan yang sehat.

Kedua hal tersebut sulit dicapai tanpa dukungan sumber daya manusia yang memadai. Sarjana teknik yang fokus di bidang infrastruktur lingkungan yang meliputi infrastruktur air bersih, air limbah, persampahan, drainase yang terkait sanitasi menjadi sangat dibutuhkan saat ini di Indonesia. Terlebih lagi masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan sarana sanitasi yang layak dan tidak tahu bagaimana menggunakan sarana sanitasi dengan baik. Misalnya, masih banyak masyarakat yang buang air besar sembarangan, padahal pemerintah sudah membangun sarana sanitasi di lingkungan tersebut. Saat masyarakat sakit, akan ada uang yang terbuang percuma untuk biaya kesehatan yang sebetulnya bisa dicegah dengan memiliki dan menggunakan sarana sanitasi dengan benar. Masih ada pula masyarakat yang kekurangan akses air bersih, tidak tahu cara mengelola sampah rumah tangga, tidak bisa menjaga kebersihan sungai sekitar, dan lain-lain.

Sarjana Teknik Lingkungan sangat jarang yang bekerja di bidang sanitasi karena kurikulum yang ada selalu disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan tentang pengendalian pencemaran lingkungan, padahal bukan hanya pengendalian pencemaran yang menjadi hal krusial sekarang, masyarakat juga perlu mendapat perhatian lebih.

Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan ITB hadir untuk menjawab kegelisahan, karena diperlukan sarjana teknik yang mampu berkontribusi dalam pemecahan masalah bangsa, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan tenaga profesional di bidang sanitasi, juga untuk meningkatkan kualitas sarana sanitasi yang sudah ada agar sesuai dengan kriteria standar yang berlaku di Indonesia.

Hal yang sering membuat orang salah kaprah adalah perbedaan Rekayasa Infrastruktur Lingkungan dan Teknik Lingkungan. Banyak orang yang menganggap kedua jurusan ini sama, tetapi sebenarnya berbeda. RIL memang banyak mengadopsi mata kuliah dari TL, namun RIL lebih fokus ke desain infrastruktur dan penyediaan kebutuhan masyarakat.

Misalnya, di TL dipelajari Kesehatan Lingkungan, RIL juga mempelajari Kesehatan Lingkungan. Hanya saja di RIL lebih ditekankan bagaimana Kesehatan Lingkungan mempengaruhi masyakarat dan menjadi parameter kualitas sanitasi masyarakat tersebut. Masyarakat yang memiliki sarana sanitasi yang baik pasti memiliki kesehatan yang tinggi. TL tidak terlalu membahas mendalam tentang perilaku masyarakat di mata kuliah Kesehatan Lingkungan, tetapi mempelajari lebih dalam tentang toksikologi atau efek bahan-bahan kimia terhadap makhluk hidup, misalnya pada racun-racun buangan limbah yang bisa mempengaruhi pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat.

TL juga mempelajari tentang pengelolaan udara, sementara RIL tidak belajar tentang udara dan lebih fokus pada air. Di RIL ada banyak mata kuliah terkait sanitasi, yaitu Sanitasi Masyarakat, Sanitasi Makanan, Sanitasi Pesisir, Sanitasi, Pasca Bencana, Teknologi Sanitasi Tepat Guna. Sementara di TL ada banyak mata kuliah yang fokus pada industri, seperti Pengelolaan B3, Kesehatan Lingkungan Kerja, AMDAL, Pencemaran Udara.

Dalam kurikulum RIL juga dimasukkan berbagai mata kuliah perancangan yang tidak didapat di TL, yaitu Pra-Rancang Landfill, Perancangan Persampahan, Perancangan Instalasi Pengolahan Limbah Cair, Perancangan Instalasi Pengolahan Air Bersih, Plambing dan Instrumentasi. Ditambah lagi, RIL mempelajari mata kuliah Partisipasi Masyarakat karena akan banyak berkecimpung di masyarakat setelah lulus nanti.

Di RIL ada 4 bidang spesialisasi yang semuanya dikaitkan dengan sanitasi:

  1. Perancangan dan Pengelolaan Air Bersih
  2. Perancangan dan Pengelolaan Air Limbah
  3. Perancangan dan Pengelolaan Persampahan
  4. Perancangan dan Pengelolaan Drainase

Tugas akhir mahasiswa RIL adalah perancangan (menggambar dan menghitung) kebutuhan sanitasi di suatu daerah, dengan mengambil satu topik bidang spesialisasi.

Masa depan lulusan RIL tentunya proyek-proyek yang berhubungan dengan penyediaan sarana sanitasi untuk masyarakat dan membantu meningkatkan kualitas infrastruktur sanitasi yang sudah ada, juga untuk mengajak masyarakat hidup bersih dengan menjaga sarana sanitasi yang sudah ada. Prospek kerja lulusan RIL yaitu kementerian, instansi pemerintah, konsultan bidang infrastruktur lingkungan, dosen spesialis infrastruktur lingkungan, dan masih banyak lagi pekerjaan yang berhubungan dengan sanitasi dan penyediaan infrastruktur lingkungan di masyarakat.

Karena kita berasal dari masyarakat, tumbuh di masyarakat, dan sudah sewajarnya melakukan sesuatu untuk masyarakat.

Jika kamu mengejar kepuasan materi, di RIL kami tidak ingin menjanjikan apa-apa. Tapi soal kepuasan hati, ladang amal, dan pengabdian masyarakat berkelanjutan sejak kuliah sampai nanti bekerja, RIL menjanjikan banyak hal.

-Rofiq Iqbal, S. T., M. Eng., Ph. D.

Ketua Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan

 

 

One thought on “Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, Jurusan yang Mengabdi pada Masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s