mind self

Memeluk Kabut


stars

Dua wajah berpaling
Mencari kepingan hati masing-masing
Terserak di hamparan malam genting
Dibubuhi nyala api kuning

Memeluk kabut, dua wajah berpaling
Tidak mau saling menatap, apalagi meratap
Bola mata yang berpejam tetap
Menjauhi ramai gemerlap

Dua hati itu sebenarnya saling menunggu. Atau yang menunggu hanya salah satu? Karena yang satu lagi bahkan tidak sadar bahwa dia sedang ditunggu. Malah bertanya, “Kau menungguku? Untuk apa?”
Pada akhirnya, dua wajah yang semula bertatap akhirnya saling berpaling. Bukan karena tidak ingin melihat. Bukan karena tidak ingin mendengar. Tapi tangan yang tidak sanggup memeluk satu sama lain untuk jadi sepasang.

Dua hati itu sebenarnya diam-diam saling merindukan. Atau di antara mereka ada yang lebih rindu? Karena yang satu lagi bahkan tidak merasa bahwa dia sangat dirindukan. Malah bertanya, “Kau merindukanku? Untuk apa?”
Pada akhirnya, dua wajah yang semula berhadapan akhirnya saling berpaling. Bukan karena bermusuhan. Bukan karena ada dendam. Tapi karena ada yang begitu mudah dirindukan namun dia tidak merasakan.

Dua hati itu dalam diam sebenarnya saling membutuhkan. Atau hanya ada satu pihak yang membutuhkan? Karena satu pihak yang lain bahkan tidak tahu bahwa ada yang membutuhkan kehadirannya. Malah bertanya, “Kau membutuhkanku? Untuk apa?”
Pada akhirnya, dua wajah yang semula mengenal akhirnya saling berpaling. Bukan karena tidak lagi mengenal. Bukan karena lupa ingatan. Tapi hati yang tidak kunjung saling menggapai.

Dua wajah itu ingin bertemu

______________________

(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s