mind self

Pacaran dan Fokusmu


heart

            Ada hal yang menggelitik keinginanku untuk menulis meskipun seharusnya aku beristirahat. Hari ini aku bertemu dengan salah satu sahabatku. Aku menceritakan banyak hal, salah satunya tentang perintah menjauhi maksiat yang ditekankan pada sebuah acara keagamaan yang aku ikuti. Dalam agama yang aku anut, dua orang lawan jenis memang dilarang mendekati maksiat. Salah satu hal yang bisa menjadi pintu menuju maksiat adalah: pacaran. Namun coba lihatlah saat ini, di sekitar kita, bahkan aku tidak memungkiri mungkin aku juga pernah melakukannya. Lawan jenis berinteraksi dengan begitu mudahnya, dan tanpa mengikrarkan diri pacaran pun, dua orang lawan jenis bisa jadi sangat dekat layaknya orang pacaran. Begitu mudah modus dilakukan. Mulai dari sering pergi bersama, mengerjakan tugas bersama, berangkat-pulang bersama, duduk bersama, makan bersama, ngobrol bersama, nonton film bersama, jalan-jalan bersama, asal tidak… tidur bersama. Tidak, yang terakhir kusebutkan itu sudah melampaui batas. Sudah jauh dari adab.

Lantas sahabatku berkata padaku, “Pikir lagi, sebenarnya pacaran itu apa, sih? Proses pendekatan, kan? Apa setiap orang yang pacaran harus mengikrarkan diri pada orang sekitarnya bahwa ‘saya pacaran’? Nggak, kan? Bahkan tanpa mereka mengikrarkan diri pun kalau perilaku mereka mencerminkan orang pacaran, mereka sudah bisa dianggap pacaran. Lagipula, ingat lagi deh tujuan kita di sini, di kampus. Bukannya kita sering dingiangkan oleh dosen, profesor, rektor, dan begitu banyak pembicara hebat bahwa kita ini ‘calon pemimpin bangsa’ dan ’masa depan negara Indonesia tegantung usaha kalian saat ini’?

Aku tidak melarang orang-orang menjalin hubungan. Sama sekali tidak. Aku netral dalam hal ini. Kita sudah berada di usia matang untuk menentukan pasangan hidup, jadi wajar kalau ingin mengenal lebih dekat lawan jenis yang menarik. Nah, alangkah baiknya kita juga bisa memposisikan diri kita, prioritas kita untuk apa? Belajar, kan? Kerja keras, kan? Bukan pacaran. Seringkali (walaupun tidak semuanya), pacaran justru menyita pikiran kita dari fokus-fokus yang seharusnya lebih kita prioritaskan. Bahkan rasa senang dan ras asakit yang ditimbulkannya bisa berdampak pada kehidupan kampus seseorang. Kalau sudah begini, bagaimana?

Kalau kuat sih, silakan pacaran sambil belajar asal tetap menjaga adab dan fokus prioritas. Gak usah terlalu bawa-bawa hati. Toh, belum pasti juga dia jodohmu kecuali sudah dipastikan Tuhan. Tapi kalau masih lemah, mudah goyah, mudah galau, mudah baper, lebih  baik hindari dulu. Fokuskan diri untuk membangun pribadi yang lebih baik karena jodoh yang baik akan mendekat bila diri kita sendiri sudah baik. Sip, kan?

Aku terdiam dan mencerna kata-kata sahabatku. Panjang dan mengena, mengingatkan aku pada fokus kita sebagai pelajar dan generasi muda yang memang seharusnya idealis, bukan melankolis. Kebanyakan dari kita bahkan menjadikan pacar sebagai standar kebahagiaan. Misalnya, orang-orang yang tidak pacaran alias jomblo begitu banyak disindir di dunia maya, seolah hidup mereka menyedihkan sekali. Padahal di balik itu, ada begitu banyak ilmu yang bisa kita dapatkan saat membuka internet daripada hanya mengurusi atau membuat sindiran-sindiran macam itu. Pacaran bukan indikator manusia muda merasa bahagia dan tidak pacaran bukan indikator manusia muda merasa sedih, seharusnya.

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.

—Tere Liye, novel “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah”

______________________

(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s