mind self

Sosokmu


Bagaimana caramu menghidupkan hidup?

Pertanyaan itu mengusik batin. Menjalani hidup saja butuh perjuangan, apalagi menghidupkan hidup itu sendiri. Bukankah ada orang yang masih hidup tapi seolah mati karena tidak dianggap keberadaannya? Sementara ada juga orang yang tetap hidup di relung pikiran orang-orang meski dia sudah lama tiada? Benar, menghidupkan hidup tidak sederhana.

Lantas kenapa ada pertanyaan seperti itu? Bukan, bukan aku yang menciptakannya. Kalimat itu muncul begitu saja saat melihat sosokmu siang tadi. Kamu duduk di lantai mushalla, bercengkerama dengan teman-teman sekelasmu dulu, juga beberapa adik kelas. Pemandangan yang membuat jemari kakiku membeku, langkahku terhenti sejenak, dan aku hanya diam memastikan bahwa itu benar kamu

Semula aku tidak mempercayai penglihatanku. Satu tahun lalu adalah terakhir kali aku melihatmu. Persis di tempat ini juga, mushalla. Entah bagaimana untuk kedua kalinya dalam selang waktu satu tahun, Tuhan memperlihatkan sosokmu di tempat yang sama, dan di bulan yang sama. Namun berapa kali pun aku menyangkal, nihil. Itu memang sosokmu. Masih dengan postur tubuh yang sama, sorot mata yang sama, dan… senyum yang persis sama.

Tidak, aku tidak mungkin berlama-lama termangu di tangga mushalla. Lantas aku duduk dan berusaha terlihat biasa di depan temanku, lalu kami mengobrol ringan. Tapi setiap obrolan yang kami bicarakan, meski aku fokus mendengarkan dan menanggapi temanku, pikiranku masih tertuju padamu.

Assalamu’alaikum.

Aku menoleh. Sekian mili detik, sosokmu duduk menyilakan kaki di seberangku hingga aku, kamu, dan satu orang temanku membentuk segitiga. Aku beringsut bersandar ke dinding, menunduk, membuang muka ke arah berlawanan, menatapmu sebentar, lalu menunduk lagi. “Wa’alaikumussalam.

Hening.

Aku mencoba mengangkat kepalaku dan menoleh ke arahmu. Aku menemukan segaris senyum di sana. Aku menemukan bola mata yang tepat menatapku, lurus.

Apa kabar?

Mencoba membiasakan diri dengan degup jantung yang semakin cepat, aku mengangguk. “Kabar baik.

Tampaknya percakapan kami singkat-singkat sekali. Selama menit-menit awal kamu yang melemparkan pertanyaan dan aku yang menjawabnya, lalu kamu  menanyakannya juga pada temanku. Sesekali ada tawa terselip di antara kita bertiga. Suasana pelan-pelan terlepas dari kecanggungan. Aku mulai menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang lebih panjang dan bertanya balik.

Selama aku dan kamu  berbicara, atau kamu  dan temanku berbicara. Aku sulit lepas dari tiga hal darimu: tatapan, suara, dan senyuman. Tiga hal yang cukup menjadi sihir untuk membuatku bungkam. Sungguh, kalau bukan bungkam, apalagi kata yang harus aku ucapkan untuk mengungkapkan bahwa aku tidak punya kata-kata untuk menggambarkanmu? Bukan kehabisan kata-kata, aku bahkan tidak punya kata-kata untuk menggambarkan sosokmu dalam pikiranku.

Saat melihatmu, aku dipaksa percaya bahwa untuk memiliki seseorang yang hebat, kita juga harus menjadi hebat. Aku dipaksa percaya bahwa untuk bersama dengan teman hidup terbaik, aku harus berkali-kali memeluk dalam do’a-do’a siang malam. Aku dipaksa percaya bahwa jarak bukan pemisah yang menjelma jurang, tapi rentang yang mengurai kuatnya kerinduan.

Saat melihatmu, aku diajari cara mengagumi dengan sederhana, meski sebenarnya letupan kekagumanku meledak dalam jiwa.

Tidak ada yang kebetulan. Semua ini skenario yang Tuhan siapkan, entah untuk apa.

mosque

_____________________

Photo from We Heart It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s