2 years ago · mind self

Auf Wiedersehen, 2014


luggage

Apalah arti memiliki,

ketika diri kami sendiri bukan milik kami?

Apalah arti kehilangan,

ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,

dan sebaliknya, kehilangan banyak saat menemukan?

Apalah arti cinta,

ketika kami terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.

Aku membaca lagi sinopsis novel Rindu karya Tere Liye untuk yang kesekian kali. Diulang berapa kali pun, aku terngiang kisah kelima tokoh yang dikisahkan mencari jawaban kisah hidup masing-masing dalam perjalanan panjang menuju Mekkah. Meraba lembaran kertasnya, menghirup aroma buku, aku tersenyum. Tertanggal 16 Desember 2014, aku menjemput buku itu dari toko. Sekali lagi, aku bersyukur sudah menjemputnya.

“Buku yang menarik, ya.” 2014 duduk di sampingku sambil membaca takzim penghujung bab Epilog, lalu bergumam kecil sambil menerawang. “Manusia baru sadar arti mendapatkan ketika sudah mengalami kehilangan. Manusia baru sadar arti memiliki ketika sudah melepaskan. Manusia baru sadar arti mencintai ketika sudah pernah membenci.”

“Hukum kebalikan selalu berhasil menyadarkan manusia,” sahutku. “Layaknya tahun ini, tahun yang luar biasa. Selepasnya aku mengantar kepergian 2013 tanggal 31 Desember tahun lalu, aku juga harus menyambutmu yang datang setelahnya.”

“Pertemuan dan perpisahan sering sejalan, kan? Tahun lalu, jari-jari tangan 2013 terasa dingin saat menjabatku. Dia lalu membisikkan sesuatu di telingaku, supaya kau tidak mendengarnya. Dia bilang, ‘Tanganmu hangat. Maka hangatkanlah juga tangannya. Aku terlalu beku untuk menghangatkan dia, sekarang giliranmu. Ada beberapa hal di akhir tahun yang membuatnya terguncang. Aku ingin kau membahagiakan dia, buat dia tersenyum, buat dia berdo’a lebih banyak, buat dia lebih kuat.

Aku mengangguk saat itu, lalu menggenggam kuat-kuat tangan 2013. Berterima kasih atas kerja kerasnya menjagamu setahun penuh. Aku juga sempat bertanya seperti apa dirimu. Apakah menyenangkan menemanimu? Apakah aku akan merasa bosan atau lelah denganmu? Begitu banyak apakah yang meluncur dari mulutku. Sampai 2013 membisikkan sesuatu lagi, “Sudah tugas kita membahagiakan manusia, bukan? Kita adalah teman hidup manusia, merekam jejak mereka dan menuliskannya dalam buku kenangan. Tentang  dia… kamu akan paham saat kamu pertama kali menjabat tangannya. Saat itulah kamu akan menemukan dorongan dalam dirimu, seperti suara penyemangat.’”

“Suara apa itu?” Aku menyela. Penasaran.

2014 sedikit terkejut lalu tertawa kecil. Dia menggenggam tanganku. “Menarilah dengannya meski di tengah badai, meski di bawah hujan, meski duka berderai.

Aku tertegun. Menunduk menatap novel Rindu di pangkuan. Lebih dari judul yang tertera di sampul novel, aku mulai sadar makna merindukan itu sendiri. Kerinduan untuk melirik kembali yang sudah terjadi satu tahun ke belakang. Kerinduan untuk membolak-balik halaman yang sudah tertulis rapi dengan judul kenangan. Kerinduan untuk memutar ulang rekaman senyum atau tangis karena memori yang tersimpan.

“Ini hari terakhirmu di sini. Kamu tidak berkemas?” Aku mengganti topik, yang jelas-jelas justru lebih jerih daripada topik sebelumnya.

“Aku sudah berkemas sebelum kamu menyadarinya,” jawab 2014, menunjuk koper di depan pintu. Hanya satu koper, berwarna merah. Seperti koper yang dibawa tahun-tahun sebelumnya, aku tidak pernah tahu apa isi koper mereka. Mungkin kenangan. Mungkin juga harapan. Mungkin juga kerinduan.

Seperti tahu pikiranku, 2014 langsung merangkulku, memeluk erat. Ini pasti pelukan terakhir darinya yang bisa aku rasakan sebelum aku mengantarnya pergi. Aku berpejam, mengingat kembali satu tahun ke belakang. Diawali dengan menjalani semester 2 di tahun pertama kuliah, lalu liburan panjang tiga bulan di pertengahan tahun, menjadi tenaga medis dalam kaderisasi mahasiswa baru universitas, masuk jurusan dan bertemu teman-teman baru, penyesuaian diri dengan asrama mahasiswa, sampai akhirnya aku tiba di sini, di penghujung 2014.

Begitu banyak cerita untuk dituliskan satu per satu. Tapi inti dari tahun 2014 ini adalah adaptasi, kerja keras, dan belajar dari kesalahan. Aku pelan-pelan bangkit untuk mengembalikan kepercayaan diri setelah jatuh berkali-kali. Aku perlahan berlari lagi di jalur yang aku yakini. Aku melesat lagi, jatuh lagi, bangun lagi tanpa menangisi luka yang ada, aku berlari lagi mengejar cita-cita.

Aku paham arti kerja keras. Aku paham arti do’a. Aku paham arti sungguh-sungguh.

Aku paham pepatah “Jika kamu merasa belum setara dengan sainganmu, kurangi tidur dan perbanyak belajar!” itu benar. Aku paham segala niat dan usaha harus berjalan beriringan dengan do’a dan tawakal. Aku paham segala kebahagiaan dan kesenangan jangan sampai merusak kesungguhan dan ketekunan.

“Aku sudah baca resolusimu,” gumam 2014. “Wujudkan, aku do’akan kamu sukses mewujudkannya.”

“Siap.” Aku memeluk 2014 lebih erat. “Terima kasih sudah bersamaku. Auf wiedersehen.

Aku mengantar 2014 di ambang pintu. Berjabat tangan untuk kali terakhir. Sama seperti 2013 tahun lalu, jemarinya kini juga terasa dingin. Sepertinya itu pertanda dia memang harus segera pergi begitu tengah malam tiba.

“Selamat ulang tahun yang ke-20,” kata 2014 sambil tertawa. “Aku tidak bisa menyalamimu di hari ulang tahunmu Agustus nanti, jadi kuucapkan sekarang.”

Alih-alih tertawa, aku malah berkaca-kaca. 2014 benar, hampir dua dekade aku menjalani kehidupan. Manis asin yang aku cecap memang belum seberapa, tapi sudah banyak peristiwa yang terjadi selama bertahun-tahun ke belakang. Peristiwa-peristiwa itulah yang menempaku menjadi seperti sekarang.

“Ingat selalu. Sukses adalah definisi yang kita tentukan sendiri, bukan oleh orang lain. Kebahagiaan dan kesedihan juga kita sendiri yang mendefinisikannya. Jangan larut dalam persepsi orang. Kamu adalah kamu, dan orang lain tidak berhak ikut campur. Hidupmu murni atas pilihan yang kamu pilih dan Tuhan yang merestuinya sebagai takdir.”

Aku mengangguk. 2014 akan pergi sekarang. Aku melambaikan tangan saat dia menarik koper menjauhiku dan menuju kegelapan yang bertaburkan cahaya dan riuh redam kembang api. Detik ini aku kehilangan, tapi sebentar lagi aku akan menemukan. Aku akan menjabat tangan 2015 untuk yang pertama kali, lalu memperlihatkannya resolusi setahun penuh. Aku juga ingin membahas tentang dekade keduaku. Pasti akan menyenangkan.

Mungkin ada beberapa duka akhir tahun 2014, karena bencana seolah datang bertubi-tubi. Gempa bumi, longsor, banjir, peringatan 10 tahun tsunami, dan pesawat jatuh.
Ada banyak air mata, banyak hati yang jadi korban, banyak jiwa yang ditempa untuk jadi tegar. Sungguh, jika kita tahu makna kehilangan yang sebenarnya, kita akan mampu menerima setiap takdir yang Tuhan berikan. Berbuat memang tidak semudah berkata-kata. Namun semua tindakan kembali lagi pada diri kita, mau berubah atau tidak.

Semoga bencana-bencana yang terjadi menjadi peringatan dan mengetuk pintu hati bangsa kita.
Semoga keluarga yang tertimpa, baik yang ditinggal maupun yang meninggalkan selalu mendapat limpahan kasih sayang-Nya.
Semoga di tahun 2015, bangsa ini bisa menuliskan kisah yang benar-benar merdeka. Bukan hanya merdeka dari jajahan bangsa lain, tapi juga merdeka sebagai diri sendiri. Merdeka secara horizontal dan vertikal. Merdeka secara dunia dan akhirat.

Terima kasih, Tuhan.

Telah Engkau ciptakan momen-momen dalam lembaran buku kehidupan. Dan selalu Engkau sisakan lembaran yang bersih untuk memulai kembali kisah yang baru.

Telah Engkau kuatkan hati untuk membangun cita-cita, harapan, mimpi-mimpi sehingga kami berani mewujudkannya dengan tangan kaki kami sendiri.

Telah Engkau buat kami sadar, bahwa Kuasa-Mu lah yang satu di atas segalanya.
Bahwa yang muda pasti jadi dewasa.
Bahwa yang bertekad pasti jadi sukses.
Bahwa yang berusaha pasti jadi berhasil.

Terima kasih, Ya Allah.
Untuk tahun-tahun yang penuh kasih sayang-Mu.🙂

____________________

(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s