2 years ago · mind self

Kepada Guru Hidup di Cikarang


guru kehidupan

Untuk sahabat sekaligus guru kehidupan di Cikarang, caramu menjalani hidup membuatku sering mengenang saat pertama kali kita bertemu di awal semester ganjil kelas XI SMA. Aku yang belum punya teman akrab dari kelas X harus berbaur lagi dengan anak-anak dari berbagai kelas yang belum kukenal, membuatku lega saat kulihat kamu (yang pernah satu kelas denganku di kelas X) duduk sendirian. Aku langsung meletakkan ranselku di samping tempat dudukmu sambil bertanya singkat, “Ini kosong, kan?”. Lalu tanpa menunggu lama, setelah kamu menjawab “Ya”, aku langsung bergegas pergi dari kelas dan menemui teman-teman ekskulku.

Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita dengan cara-Nya sendiri. Kita yang semula canggung untuk mengobrol karena perbedaan selera, mulai dipersatukan dengan cara yang tidak biasa. Aku bersyukur kamu yang lebih dewasa dariku mengajari cara bagaimana aku seharusnya hidup sebagai remaja SMA. Kita sahabat, aku mengakui itu. Kita berbagi banyak hal dan kesukaan. Kita juga pernah bertengkar karena hal yang sepele.

Cara kita menertawakan kehidupan ini terasa begitu nyata, sama seperti cara kita menangisinya, sama seperti cara kita memusuhinya, sama seperti cara kita mencintainya. Kita sudah merangkai hidup yang semula terasa hampir kadaluarsa, sampai akhirnya kita berani berkata hidup ini akan abadi selamanya jika kita mengecapnya bersama. Kita yang sudah lihai berbagi pahit, mengulirkan dadu peruntungan bersama-sama, berkhayal apa yang akan terjadi saat angkanya menampakkan diri ke hadapan kita.

Setiap hari adalah perayaan bagi kita. Kita mengisi gelas-gelas kosong kehampaan, menumpuknya dengan gula manisan atau air mata duka. Kita sama-sama memanjatkan do’a untuk pribadi masing-masing, menjaga dalam do’a agar esok hari kita bisa bertemu lagi dan bercengkerama seperti hari sebelumnya.

***

Afri udah tidur? Bantuin aku translate. Aku lagi kerja, jadinya gak bisa translate. Besok ada tes.

Aku menatap layar ponsel beberapa hari yang lalu saat muncul pesan darimu. Sudah tengah malam dan kamu mengirimkan teks yang harus aku terjemahkan. Aku mengantuk dan tidur saat itu sehingga belum sempat menerjemahkan. Sampai akhirnya keesokan paginya aku melihat chat darimu.

Afri udah tidur ya? Kamu balas besok pagi juga gak apa-apa, kok. Aku kerja malam, pulang jam lima pagi. Pulang kerja langsung tidur satu jam terus capcus kuliah jam tujuh.

Betapa jahatnya aku tidur tengah malam itu dan membiarkanmu menunggu balasanku. Meski akhirnya tugasmu diterjemahkan oleh orang lain yang ikut membantumu. Aku menyesali tidak bisa membantu banyak.

Siang ini, aku mengingat kembali semua kisah perjalanan kita. Di kota berdebu ini, di bawah langit berpolusi, Tuhan mempertemukan kita. Mungkin ini bukan kota yang indah untuk mengenang pertemuan, tidak indah jika dimasukkan ke dalam novel sekalipun. Tapi kisah kita sudah menyerupai lembaran buku yang aku genggam dalam pikiranku.

Aku seringkali berpikir untuk menyerah saat merasa lelah. Aku seringkali merasa mengantuk saat harus belajar keras di tengah malam. Aku tahu pepatah “Kurangi tidurmu dan perbanyak belajarmu jika kamu merasa belajarmu saat siang belum cukup mengimbangi sainganmu”. Saat aku mengamalkan itu, aku seringkali gentar dan goyah karena mengantuk. Aku sering mengeluh lelah. Aku sering mengeluh hidup ini keras. Aku sering mengeluh kuliah ini seperti obat yang membunuh perlahan.

Tapi aku melupakan kamu. Kamu juga kuliah seperti aku. Lebih kuat dariku, kamu juga bekerja di saat yang sama. Aku kuliah, sementara kamu kuliah dan bekerja. Aku menderita, tapi kamu justru bisa lebih kuat dari aku. Aku tertampar kenyataan bahwa aku sebenarnya harus lebih kuat. Jika kamu bisa menelan pahitnya lelah dan kantuk, aku seharusnya lebih bisa. Jika kamu mampu menelan semua ilmu dan pekerjaan, aku seharusnya lebih mampu. Jika kamu sanggup tetap tegar dan kuat menjalani hidup, aku seharusnya lebih sanggup.

Aku harus belajar banyak darimu.

Bahwa setiap hari hidup adalah perayaan, ketika kita mencicipi manis atau pahit yang disuguhkan oleh Tuhan. Telan saja, kita sudah dewasa untuk merasakan.

Bahwa setiap hari hidup adalah perayaan, ketika kita menghiasnya dengan bola lampu merah-hijau atau hitam-kelabu yang disuguhkan oleh Tuhan. Genggam saja, kita sudah dewasa untuk menyalakan.

Bahwa setiap hari hidup adalah perayaan, ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang bertebaran, saling menimbulkan sebab-akibat bagi jalan hidup kita sesudahnya. Pilih saja, kita sudah dewasa untuk memilih.

Sekali lagi, aku berterima kasih untuk hidup yang lebih bermakna setelah aku mengenang kembali jalan yang kita lalui. Saat ini kita mungkin terpisahkan ruang dan waktu, tapi percayalah aku dan kamu selalu bertemu dalam untaian yang disebut persahabatan. Kemana pun kita melangkah, sekalipun tidak di bawah langit yang sama, kita selalu terhubung oleh ikatan yang sama.

Nafasku senafas denganmu seperti degupmu sedegup denganku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s