2 years ago · mind self

Sepertinya


sky

“Jika cinta selalu menemukan tempatnya pulang, maka bukankah hatiku juga pasti menemukan kembali kamu yang hilang?”

Lagi, kita duduk sore ini. Berhadapan. Aku diam, lebih memilih menatap riak teh di depanku yang terguncang karena getaran tanganmu mengetuk meja berkali-kali. Dari tadi hanya nafasku yang menggantung di udara, lenyap dibawa udara dingin. Kamu terus berucap tentang sepenggal hatimu yang hilang, yang kamu katakan sudah kubawa pergi jauh-jauh. Tapi siapa? Siapa yang hatinya aku bawa pergi jauh-jauh? Sejak dulu, aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Aku selalu di sini, mendengarkan kamu bicara. Kamu saja yang tidak pernah menyadarinya.

Sepertinya kita berdua berada di dimensi persepsi yang berbeda.

***

tea

Memang, tidak ada yang sanggup menahan sakitnya merindukan. Namun manusia memang terlahir kuat. Ditutupinya rindu itu dengan senyuman yang dipaksakan, dengan pengertian yang berlarian, dengan penantian yang penuh penerimaan. Sampai kapan? Tidak tahu. Bahkan hati yang paling peka sekali pun tidak tahu pasti kapan rindu bisa terbayar lunas. Layaknya hutang yang bertumpuk, dia terus datang dan duduk. Memenuhi hati, meraup serpihan-serpihan batin, menembus lapis-lapisnya yang paling dalam. Mengisi ruang-ruang dengan sesak dan kehampaan. Selalu. Rindu selalu minta dibayar lunas tetapi dia tidak pernah memberi tahu bagaimana cara melunasinya. Bukankah tidak adil?

Sejak dulu aku menjadikanmu cermin dalam pikiranku. Agar setiap kali aku berkaca, aku selalu membandingkan diriku bersanding menatapmu, lalu mata kita bertemu. Aku ingin mencari kepantasan di antara kita. Layaknya cermin, aku berusaha menyergapmu dan meniru. Bahkan setiap inci bayanganmu aku perhatikan juga. Aku terus berusaha memantaskan diri untuk menjadi sepertimu. Agar kelak bisa aku pecahkan cermin ini dan kudatangi dirimu yang asli, lalu kita bisa saling membuka selimut pribadi masing-masing. Memperlihatkan diri sendiri yang sebenarnya, lalu bersama setelah sekian lama ditelantarkan sepi. Bukankah itu yang selama ini kita cari?

Seperti langit dan bumi, kamu mencoba menyapaku dengan hujan yang berderai di kelopak mataku. Memenuhi jalanan, menari di atas trotoar, melempar percik ke pangkuan. Tapi kamu tidak sadar, kamu juga menghujani orang lain… Bukan hanya aku yang ada di bawah rinaimu. Ternyata bukan hanya aku yang tersenyum saat kamu hadir dari genggaman awan kelabu. Bukan hanya aku yang menengadahkan kepala saat kamu menyergapku deras. Ternyata bukan hanya aku yang bahagia melihatmu datang tiba-tiba. Maka rintik hanya menjadi rintik di pucuk penantianku. Aku yang semula menyambutmu kini memilih bersembunyi di balik payung. Aku menghalau kedatanganmu, mengabaikanmu, menjauhimu dengan mencari keteduhan. Meski sebenarnya aku ingin berdansa di bawah hujan.

Seperti langit dan bumi, aku mencoba menyentuh jemarimu dengan genggamanku di cakrawala, yaitu saat matahari melukis garis jingga dan bersemayam di sana menunggu malam mengusiknya. Di atas air, aku berjalan dan mencoba menghantuimu dengan bintang-bintang. Aku tumpahkan percikan-percikan sisa redup matahari ke wajahmu sambil memanggilmu samar-samar. Sayangnya aku tidak sadar, saat malam datang jejakku bahkan tidak tampak singgah di cakrawala. Warna yang kupercik ke wajahmu tidak tampak sebagai cahaya. Jemariku yang menyentuhmu tidak terasa sedang menggenggam jemari milikmu. Aku yang semula menunggu di garis batas pertemuan kita kini memilih pergi dari sana. Aku lebih baik menggambar garis lain di belahan bumi yang terang. Kulihat kamu juga sudah diwarnai aurora yang entah siapa dia. Meski sebenarnya aku masih ingin menunggu pagi datang dan menggambar garis yang baru di cakrawala ini untukmu.

***

stars

“Jika cinta selalu menemukan tempatnya pulang, maka bukankah hatiku juga pasti menemukan kembali kamu yang hilang?”

“Ya,” jawabku. Kali ini aku menjawab. Kali ini aku bersuara. Kali ini aku tersenyum.

Sama saja bagiku, diam menatap riak teh di cangkir atau menatap matamu. Sama saja keadaannya jika aku tidak bicara lebih dulu. Seperti kembang api di malam gelap gulita, atau bara api yang terang di antara jelaga, aku ingin kamu tahu tangguhnya hati ini mempertahankanmu. Selama ini aku selalu menunggumu. Tapi siapa yang tahu bila sebenarnya kamu juga menunggu? Mungkin saja.

“Tidak perlu mengetuk lagi. Kali ini aku yang akan membukakan pintu. Aku akan menemuimu di pusaran renjana. Jadi…merintiklah sebagai hujan dan basuh kerinduan di hatiku yang sepi,” ucapku. Tersenyum.

Sepertinya kita berdua kini berada di dimensi persepsi yang sama.

(Photos from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s