2 years ago · mind self

22nd December is Ours, Mom


Mom and Me

Jika kamu bisa menghitung banyaknya peluh yang mengalir, banyaknya air mata yang tumpah, banyaknya waktu yang habis, banyaknya tenaga yang keluar, banyaknya cinta yang datang dari ibumu, apa kamu bisa membalasnya?

Tidak sedikit pun.

Maka jadilah anak baik. Ibumu bahkan tidak meminta apapun. Ibumu mungkin tidak bisa membantumu mengerjakan tugas, menjawab soal ujian, mengatur jadwal belajar. Namun ketahuilah ibumu selalu mengusahakan yang terbaik untukmu, mengorbankan banyak hal untukmu, menyebut namamu dalam do’anya kepada Tuhan. Demi apa? Demi kesehatanmu, kebahagiaanmu, kesuksesanmu.

Sungguh, seorang ibu adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan untukmu.

Aku menggenggam ponselku dan cemas melihat ke luar jendela. Hari ini ada rapat angkatan membahas pawai olimpiade olahraga, tapi pikiranku bahkan tidak tertambat ke sana. Aku masih berdebat dengan ibuku tentang keinginanku untuk pulang sementara ibuku sedang sakit. Aku bersikeras untuk pulang sementara ibuku melarang karena takut aku tertular sementara aku akan menghadapi ujian minggu depan.

Bukan, bukannya aku tidak takut tertular. Aku jelas mengkhawatirkan kesehatanku menghadapi ujian. Aku hanya ingin melihat kondisi ibuku dan menjenguknya selagi dekat. Ya… selagi dekat. Jarak kami saat ini hanya terpisah 4 jam perjalanan. Sebelum ini, ibuku juga pernah sakit bahkan sempat dirawat inap. Aku tidak mau terlewat lagi. Kali ini sebelum lebih parah, aku harus pulang dan melihat sendiri kondisi ibuku. Aku tidak mempedulikan rapat lagi. Aku segera izin, minta tolong pada salah satu temanku untuk mengantarku ke apotek untuk membeli obat. Bersiap pulang setelahnya.

Itu dua minggu yang lalu. Ibuku sudah sehat lagi hari ini, saat aku mengetik ini beliau sedang tidur dalam keadaan sehat. Tuhan memang selalu penuh kejutan, penuh rencana, penuh rahasia. Untuk banyak hal, aku merasa ibu adalah hadiah terbaik yang pernah Tuhan berikan untukku.

Besok Hari Ibu. Aku ingat pertama kali aku membelikan ibuku kue dengan uang sendiri, saat aku SMP. Siang itu panas dan sepulang sekolah aku singgah ke sebuah toko kue yang sudah kuincar sejak beberapa hari sebelumnya. Memilih kue dengan perasaan cemas uang tidak cukup, lalu bertanya kapan kue bisa diambil. Toko itu sedang banyak pesanan berdus-dus kue saat aku datang di Hari Ibu untuk mengambil kue pesananku. Pelayan toko menyodorkan kotak kue dan menyebutkan harganya. Aku membayar (bersyukur dalam hati uangnya justru berlebih) dan pulang dengan perasaan senang. Aku meletakkan kotak kue di atas meja makan diam-diam dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ibu bertanya tentang siapa yang menaruh kue di sana lalu aku bergegas ke meja makan, menyalakan lampu, dan berkata “Selamat Hari Ibu, Ma.”

Sejak hari itu aku selalu membawakan hadiah Hari Ibu untuk ibuku.

Rantau adalah jurang terbesarku dengan ibu. Setelah lulus SMA dan kuliah di luar kota, aku tidak bisa terus menemui ibu. Kami memang terpisah jarak, tapi setidaknya ada garis yang menghubungkan kami, yaitu do’a. Tidak terhitung sudah berapa kali do’a ibuku menyelamatkanku. Itu do’a yang aku ketahui, belum lagi tidak terhitung lebih banyak yang tidak aku ketahui. Karena itulah aku merasa ibuku adalah hadiah Tuhan yang paling indah.

Aku mungkin pernah merasa sakit, tapi ibuku akan jauh lebih sakit jika aku sakit.

Aku mungkin pernah merasa sedih, tapi ibuku akan jauh lebih sedih jika aku sedih.

Aku pernah merasa bahagia, dan ibuku pasti akan jauh lebih bahagia jika aku bahagia.

Aku sadar tidak bisa membalas apa yang ibuku berikan untukku selama ini, tapi dengan garis do’a, Tuhan selalu menghubungkan kami. Aku harap aku tidka menyakiti hati ibuku. Aku harap aku selalu bisa membuat ibuku bahagia. Aku harap aku bisa menunjukkan bahwa aku sukses di hari saat aku diwisuda tepat waktu nanti.

Besok Hari Ibu. Semoga Tuhan selalu menjaga kita dalam naungan kasih sayang-Nya. Semoga Tuhan selalu mencurahkan rahmat-Nya pada semua ibu di dunia ini. Semoga setiap anak-anak bisa menciptakan kebahagiaan di hati ibunya masing-masing.

Selamat Hari Ibu 22 Desember 2014.

(Photo from We Heart It)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s