2 years ago · mind self

Terima Kasih, Tuhan


good-morning by khawkins04

Terima kasih, Tuhan.

Aku berterima kasih juga pada Subuh. Aku tidak bisa tidur lagi setelah kedatanganmu. Aku beringsut berdiri dan berjalan mengambil wudhu untuk shalat subuh sebelum fajar mulai merekah di ujung-ujung jarimu. Padahal kantuk masih berkerak di mataku, tapi aku tidak juga bisa memejamkan mata lagi setelah menyentuh kasur yang nyaman. Tidak, kasurku tidak bersalah. Dia memang seolah tidak rela melepas dan memaksaku untuk tetap tidur dengannya, tapi aku harus tegas pada diri sendiri bahwa semua bunga tidur harus ada batasnya.

Saat fajar mulai merekah, aku merasakan hembusan angin yang berdesakan memaksa masuk ke dalam kamar. Angin itu menampar-nampar wajahku bergantian, lalu berlarian dalam kamarku. Tentu saja aku harus segera bangun. Aku tidak mau kalah oleh burung-burung yang sudah sejak awal berkicau tanpa pernah terlambat. Begitu juga dengan ayam jantan yang selalu tepat waktu berkokok padahal matahari belum memunculkan semburatnya. Aku heran, apakah dalam tubuh mereka ada alarm yang selalu siap membangunkan? Lalu kenapa manusia macamku harus dibantu alarm digital yang bahkan saat alarm tersebut berbunyi aku tidak langsung terbangun, malah mematikan lalu tidur kembali seperti tidak pernah ada alarm yang berisik. Aku tidak tahu, sebegitu sulitnya aku bangun hanya untuk menghadap-Nya. Padahal makhluk lain yang tidak berakal pun bisa bangun pagi dengan sempurna. Mungkin Tuhan ingin aku belajar menghargai diri sendiri yang sudah diberi waktu 24 jam oleh-Nya untuk menjalani hidup dengan kesibukan dan waktu istirahat. Juga sudah ditentukan oleh-Nya waktu ibadah untuk menghadap-Nya tanpa pernah bertubrukan satu sama lain. Tapi apalah aku sebagai manusia? Setiap ada panggilan untuk menghadap-Nya, masih ada saja kemalasan yang bersarang dalam diri. Apa susahnya menggerakkan kaki dan berwudhu lalu shalat dan berdo’a? Padahal Tuhan punya kasih sayang yang tiada batasnya. Jika aku bisa memberi banyak cinta untuk orang yang kusayangi, bahkan selalu menyebut orang itu dalam do’aku pada-Nya, seharusnya aku malu pada diri sendiri belum menyempurnakan imanku yang sesungguhnya.

Terima kasih, Tuhan. Aku berterima kasih juga pada Pagi. Kali ini aku tidak akan kembali ke tempat tidur yang sudah kurapikan itu. Juga pada jendela yang sudah kubuka lebar-lebar itu. Juga pada lantai yang sudah selesai kusapu. Aku ingin menyambut fajar yang merekah di balik gunung sana, yang tampak dari jendela kamarku. Aku ingin berterima kasih Tuhan masih memberiku hidup dan waktu untuk menjalani hari ini yang entah kapan berakhirnya. Aku harus tahu cara berterima kasih pada Tuhan, lebih dari aku tahu cara berterima kasih pada orang lain.

(Photo from opensiddur.org)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s