2 years ago · mind self

Pulang


Apalah yang aku cari, jika bukan atap yang terpendam dasar
Terhalang gedung-gedung besar
Tapi apa daya, hati tidak pernah tersesat
dan gusar
Hati selalu bisa menemukan puncak tertinggi
atap rumah miliknya
yang tersudut di balik gulma

Aku mengejar pulang
Aku rindu berucap pulang
Meski di rantau langit sama-sama biru,
tapi suasana awan terasa kelu

Aku ingin kembali
pada ketukan pintu kayu yang
berderit pilu
Bukan karena luka, tapi haru karena aku lama sudah tak dijumpainya

Aku ingin kembali
pada sepasang jiwa yang
menjadikan aku ada
Lalu mencium, tersenyum, berdo’a

Meski sudah senja
Aku ingin masih bisa
memeluk mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s