2 years ago · mind self

Lebaran dan Warna Demokrasi


image

Melihat sejenak ke sekeliling kita, ada sedikit rasa janggal dengan hari-hari menjelang Lebaran. Karena 22 Juli kemarin merupakan momentum besar sejarah demokrasi Indonesia, tanggal tersebut juga merupakan tanggal menuju Hari Raya. Seharusnya damai merasuk dalam jiwa kita semua, mengingat Hari Raya adalah hari kemenangan bersama. Yang merasa senang dengan kedatangan Hari Raya bukan hanya mereka yang muslim, tapi juga mereka yang non muslim. Bagaimana tidak, semua orang mengekspresikan kebahagiaannya menyambut lebaran dengan berkumpul bersama keluarga, menyiapkan berbagai kue lezat, memasak makanan enak, dan saling bermaafan satu sama lain. Kalau satu hari saja di mana bermaafan dan memaafkan bisa mengubah segala keegoisan kita sehari-hari, di mana hari-hari biasa kita sering disibukkan atau menyibukkan diri untuk sekadar bersilaturami, maka momen ini menjadi poin penting sekarang.

Seharusnya setelah semua perdebatan dan perselisihan panas antar dua kubu, deklarasi kemenangan setelah quick count yang terburu-buru, saling sikut membela capres-cawapres pilihan sampai harus menghardik saudara, kerabat, dan teman sendiri. Seharusnya setelah semuanya usai dengan ketuk palu KPU tanggal 22 Juli 2014 kemarin, kita sudah bisa legowo masing-masing. Pak Presiden SBY pun mengatakan “Menang Tenggang Rasa, Kalah Besar Jiwa” menanggapi kondisi bangsa Indonesia yang masih saja terlihat gejolaknya setelah pilpres berakhir.

Diduga ada kecurangan yang dilakukan di banyak daerah. Kalau pun benar yang terjadi, ayo selesaikan bersama. Pihak yang merasa dirugikan juga sudah lapor ke MK, kok. Kita kawal saja dan pantau setiap alur penyelesaiannya. Tidak perlu harus saling sikut. Terkesan, pihak pendukung yang menang tampak sombong karena merasa sudah berada di atas (padahal si capres-cawapres yang menang sudah kembali bekerja seperti biasa, tidak ikut urus sana-sini lagi, tidak mikir kabinet ini itu dan siapa isinya) dan pihak yang kalah tampak picik karena seolah tidak bisa menerima kekalahan dengan lapang dada (padahal capres-cawapres yang dinyatakan kalah sudah melapor ke MK dan memperjuangkan keadilan, setelah itu meminta pendukungnya tetap damai dan tenang).

Tulisan singkat ini hanya ingin menyadarkan kita semua bahwa Ramadhan 1435 Hijriyah ini jangan sampai kehilangan “damai” yang diusungnya. Jangan sampai ternoda oleh demokrasi yang begitu berwarna, saking berwarnanya justru menjadi aksi saling serang yang bikin gerah saja. Ayo kita sama-sama menyambut Hari Raya dengan hati yang tenang, bersih, dan damai. Menyalakan kembali warna demokrasi yang sesungguhnya ada di Indonesia, yaitu Persatuan.🙂

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah. Ja alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faidzin  (Semoga Allah menjadikan kita semua tergolong mereka yang kembali ke fitrah dan berhasil menahan diri).🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s