2 years ago · mind self

Presiden Baru, Genggaman Tangan Ibu Pertiwi


Pilpres menjadi santapan utama rakyat Indonesia setiap kali menonton televisi sejak berminggu-minggu ke belakang. Setiap detik yang bergulir selalu terselip berita pilpres. Mulai dari deklarasi calon, kampanye, debat capres, pemungutan suara, dan penghitungan suara. Bukankah menyenangkan melihat negara kita yang sederhana ini mendominasi dunia? Lihat saja, channel televisi dunia juga memberitakan pemilu Indonesia. Bahkan sudah sering kita lihat hashtag Indonesia tentang pilpres menjadi trending topic dunia. Apalagi tahun ini banyak generasi demokrasi murni, yaitu generasi yang lahir tanpa dibayang-bayangi masa kelam orde baru, generasi yang buta dari hantu zaman otoriter, generasi yang beramai-ramai menyambut pemilu pertama mereka di usia paling idealis, didominasi usia remaja 17, 18, 19 tahun. Usia yang sangat lugu dan belum pernah merasakan pemilu presiden sebelumnya. Generasi yang malu-malu mencelupkan jari, mewarnai jari dengan tinta pilpres yang segar, lantas berseru pada dunia sambil menulis testimoni gembira sudah coblos calon tertentu, berfoto dengan jari ungu.

Lihatlah semua hiruk pikuk ini. Pilpres kali ini menarik sekali karena calonnya hanya dua. Semua ramai membahas calon pilihan masing-masing. Menyatakan kelebihan calon yang didukungnya, begitu berapi-api, begitu bersemangat setengah mati. Pokoknya calon yang didukungnya harus menang. Peduli amat dengan calon sebelah, tidak urus. Eh tapi ternyata tidak juga. Supaya menang, ada saja yang membuat sindiran-sindiran pedas, tajam, berduri, menusuk, menghujam, ah… apalah itu. Sindiran yang kita kenal kampanye hitam ini pun merebak ke mana-mana. Bukankah ramai? Saling serang, cari-cari kesalahan lawan, meme comic, broadcast message bbm, status facebook, kicauan twitter seputar pilpres bertebaran. Begitu mudahnya seperti angin meniup pasir di gurun, lantas menggulungnya dan mencipta badai besar. Indonesia juga mengalami hal yang sama. Nasib meme comic ini sungguh beruntung sekali, cepat betul terkenalnya. Rakyat memang suka humor, jadi meme-meme itu tentu saja cepat menarik minat. Boleh saja senang dengan meme yang baik-baik, tapi yang menjelekkan pasangan capres-cawapres tertentu semakin membuat gerah. Supaya tidak kalah, lawan lantas membuat baru. Terus menerus, tidak juga berhenti. Posting terus, pasang jadi foto bbm, unggah di facebook, tweet di twitter, ah pokoknya calon yang diusung tidak boleh kalah.

9 Juli sudah lewat. Banyak yang berharap semua perdebatan antar kedua kubu selesai setelah melihat hasil quick count. Menang tak jumawa, kalah lapang dada. Tapi… tunggu. Kata siapa semua perdebatan berakhir? Stasiun televisi dan lembaga quick count pun ternyata berkubu. Rakyat lagi-lagi dibuat bingung. Di stasiun televisi ini, capres-cawapres X menang. Di stasiun televisi itu, capres-cawapres Y menang. Jadi Indonesia bisa jadi… punya dua presiden dan dua wakil presiden?

Ternyata perasaan damai belum bisa merasuk ke diri rakyat. Lembaga quick count berbeda-beda hasil hitungannya, lantas saling klaim yang paling benar. Belum lama setelah quick count menunjukkan angka stabil, salah satu pasangan capres-cawapres mendeklarasikan kemenangannya. Menyelenggarakan konferensi pers. Tepuk jidat, apa lagi ini? Belum cukup, kubu sebelah ternyata deklarasi kemenangan juga. Capres-cawapres sebelah juga merasa menang. Oke, inilah demokrasi. Mungkin kita harus menunggu keputusan KPU tanggal 22 Juli.

Ramai sekali bukan?

22 Juli 2014. Aku duduk di sofa ruang keluarga, melihat televisi yang terasa semakin panas. Sebentar lagi pengumuman resmi KPU. Rekapitulasi masih diwarnai  tuntutan-tuntutan dugaan kecurangan. Alot sekali. Ternyata pemilu presiden yang diadakan ulang di beberapa daerah dinilai belum mencakup semuanya. Masih ada dugaan curang. Ibukota dijaga ketat. Siaga satu. Bahkan KPU mendapat penjagaan setara istana negara. Sementara itu media masih juga bercuap-cuap. Lihat saja, wartawan sibuk sekali memotret, merekam, mengabadikan setiap momen dengan detil. Indonesia ramai sekali. Bahkan hashtag #PresidenBaru menjadi trending topic dunia di twitter. Tapi aku tidak terkejut. Bukankah sudah sejak berminggu-minggu lalu Indonesia mendominasi twitter? Sampai-sampai piala dunia tidak bisa mengalahkan ramainya pilpres di negeri ini. Ya, ramai sekali…

Ada hal menarik dari salah satu pasangan capres sore tadi. Capres tersebut menyatakan menarik diri dari pilpres. Tidak, beliau tidak mundur. Beliau hanya merasa kecewa karena pilpres 2014 dinilainya cacat hukum. Wah, ini tentu saja menarik. Bagaimana tidak? Saat itu, di jam yang sama, KPU sedang bersusah payah merekapitulasi suara hasil pemilu. Lagipula pilpres sudah berlangsung dan hanya tinggal menunggu hasil, jadi sebenarnya tidak ada gunanya mundur. Bukankah paling baik adalah maju menyongsong masa depan?🙂

“Apa pendapat Ibu?” aku beringsut sedikit dari dudukku. Menoleh ke sebelahku, tempat seseorang duduk takzim menatap televisi sambil tersenyum tenang. Gurat-gurat usia sudah terbentuk di wajahnya. Matanya menatap lurus. Hitam bulat berkilat, juga terlihat semburat lelah di sana. Rasa sakit masa lalu yang dikubur habis-habis, tapi masih bersisa juga.

“Pengumuman nanti semoga menjadi hadiah terindah untuk kita.”

Aku diam saja, tidak mengerti. Lalu ikut melihat televisi. Tapi dari tadi hanya itu-itu saja yang dibahas. Hasil penghitungan nasional oleh KPU yang tinggal diumumkan sebentar lagi.

“Bukankah menyenangkan mendapat hadiah besar satu kali setiap lima tahun?” Seseorang di sebelahku bergumam. Matanya masih memandang lurus ke arah televisi seperti sedang menonton drama klasik yang agak basi.

“Ya, memang. Tapi aku menyayangkan kondisi yang terjadi sekarang. Dugaan curang di mana-mana, media massa yang berpihak, perpecahan rakyat hanya karena pebedaan dukungan capres-cawapres, deklarasi kemenangan yang terburu-buru, sikap masing-masing kubu yang kurang dewasa…”

Tanganku tergenggam. Seseorang di sebelahku menggenggamnya. Itu sentuhan yang pertama kalinya aku rasakan. Terkejut, aku tidak berusaha melepaskannya. Genggamannya terasa hangat, nyaman. Genggaman itu membuatku bungkam, membuat kepalaku berhenti berspekulasi macam-macam, membuat aku sejenak hening dan menyingkirkan semua embel-embel pilpres di kepalaku. Dia menatapku lembut, menyunggingkan senyum yang tergurat sangat ikhlas. Aku balas menatapnya dengan takjub, ikut berbinar di saat yang sama. Dia seperti mempunyai sihir yang membuatku tertegun, hening, tidak berucap apa-apa.

“Negara ini akan menyambut pemimpin barunya dengan damai. Yakini itu.”

Aku melirik kalender yang tergantung di samping televisi. Setelah pengumuman nanti bergema, kalender di setiap rumah rakyat setidaknya bukan hanya angka-angka balok yang bisu. Kalender akan menandai dirinya sendiri bahwa tahun ini, tanggal hari ini, 22 Juli 2014, Indonesia sudah punya pemimpin baru.

“Hadiah terindah untuk ulang tahun Ibu juga,” aku tertawa, balas menggenggam erat tangannya. Menciumnya khidmat. Tangan itu harum sekali. Jemarinya lembut dan kokoh menjalin jemariku. “Sila ketiga akan selalu menjadi akar dalam hati rakyat Indonesia kan, Bu?”

“Tentu saja, genggaman tangan ini juga akan ada untuk mereka, pemimpin-pemimpin baru kita kelak.”

Tak lama setelah itu KPU mengumumkan pemimpin Indonesia yang baru. Ketukan palu tiga kali disambut tepuk tangan riuh di belakangnya. Bukankah teguh harus dipegang sampai akhir? Seperti sikap seorang negarawan sejati. Perbedaan bukan halangan untuk berpecah. Langit dan bumi, meski berbeda, selalu bisa saling menyentuh dengan cengkerama. Langit mencium bumi dengan percik hujan yang berlarian basah di jalanan. Bumi memeluk langit dengan tarian jemarinya di cakrawala yang menggurat rindu dan menggores jejak. Sekali lagi, aku mencium tangan seseorang di sampingku, kali ini sambil berpejam dalam do’a. Do’a terima kasih untuk Tuhan karena Indonesia selalu disayangi oleh-Nya. “Semoga Tuhan selalu menaungi kita, Ibu Pertiwi…”

Saat membuka mata, Ibu Pertiwi sudah tidak berada di hadapanku. Sebagai gantinya, di tanganku tergenggam sepucuk kertas putih bersih berlambang garuda bhinneka tunggal ika dan bendera merah putih.

Kembalikan Indonesia Padaku

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,

yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam

dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam

lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,

sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang

sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan

Indonesia

padaku.

Taufik Ismail, Paris 1971 

Tersenyum, aku mendekap kertas itu dan kembali berterima kasih pada Tuhan.

Ya, siapa pun yang Tuhan pilih untuk memimpin Indonesia, orang-orang itu adalah pilihan Tuhan untuk kita. Tuhan sudah menggulirkan ketentuan-Nya. Tuhan percaya orang-orang yang dipilih-Nya mampu menyelesaikan berbagai tantangan bangsa dan berbagi dengan rakyat di bawahnya. Mengembalikan Indonesia sepenuhnya pada kita, rakyat Indonesia yang merdeka.

Salam damai, Pak Joko Widodo, Pak Prabowo Subianto, Pak Jusuf Kalla, dan Pak Hatta Rajasa.

Selamat memimpin Indonesia (sebagai presiden dan wakil presiden ke-7 di bulan 7), Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla.

______________________________

Afriana Maharani Puteri

Bekasi, 22 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s